Konflik di Timur Tengah mulai memberi efek domino ke industri otomotif global. Yang pertama terkena imbas bukan hanya logistik kendaraan, tetapi juga biaya bahan baku, margin keuntungan, dan stabilitas rantai pasok komponen. Dalam situasi seperti ini, gangguan kecil saja bisa berubah menjadi masalah besar bagi banyak pabrikan mobil.
Pemasok komponen asal Jepang, termasuk mitra utama Toyota, kini berada dalam tekanan ganda. Di satu sisi mereka harus menjaga produksi tetap berjalan, di sisi lain harga bahan terkait minyak bumi, aluminium, dan material turunan lainnya mulai naik. Bagi industri yang sangat bergantung pada ketepatan biaya dan pasokan, kenaikan seperti ini jelas bukan kabar baik.
Menurut pelaku rantai pasokan, bahan yang sulit diganti seperti produk berbasis nafta dapat mengacaukan proses produksi jauh lebih besar daripada sekadar menambah biaya input. Masalahnya tidak berdiri sendiri, karena bahan tersebut dipakai di banyak tahap manufaktur. Begitu satu mata rantai terganggu, efeknya bisa menyebar ke banyak lini lain secara cepat.
Gangguan juga tidak hanya terkait pengiriman lewat Selat Hormuz. Pasokan minyak dan bahan baku utama yang menopang banyak komponen mobil ikut terguncang. Hal ini membuat para eksekutif di ekosistem Toyota semakin hati-hati membaca situasi. Moritaka Yoshida, CEO Aisin, mengakui bisnisnya masih berusaha menjaga operasi agar pelanggan tidak terganggu, tetapi sulit memastikan berapa lama kondisi itu bisa dipertahankan.
Asia disebut sebagai kawasan yang paling rentan terhadap guncangan pasokan ini karena ketergantungan besar pada impor minyak mentah, gas, dan bahan bakar dari wilayah Teluk. Ketika suplai itu terganggu, banyak perusahaan langsung menghadapi kesulitan operasional. Dalam industri otomotif, dampaknya bisa datang dari mana-mana: dari ongkos produksi, pengiriman, hingga jadwal penyerahan kendaraan.
Aisin sendiri menyebut harga aluminium sudah mulai menekan prospek laba. Perusahaan memperkirakan dampak negatifnya bisa mencapai sekitar 15 miliar yen pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2012. Denso, pemasok terbesar Toyota, bahkan menurunkan proyeksi laba operasinya dan memperingatkan bahwa risiko pasar dapat memangkas keuntungan hingga 45 miliar yen.
Tekanan juga datang dari bahan lain seperti plastik, pelarut, dan nafta yang dipakai dalam proses pengecatan mobil. Koichi Ito dari Toyota Industries mengatakan sejumlah pemasok mulai meminta kenaikan harga agar sumber bahan tetap aman, sekaligus memperpendek masa komitmen harga dari beberapa bulan menjadi hanya beberapa minggu. Situasi ini membuat pabrikan mobil sulit memindahkan beban biaya ke konsumen.
Jika kondisi terus memburuk, dampaknya bukan hanya ke harga komponen, tetapi juga ke kelancaran produksi kendaraan itu sendiri. Katsumi Saito dari Toyoda Gosei menegaskan bahwa kalau merek tidak bisa melukis mobil, mereka tidak bisa menyelesaikan produksi. Itu berarti satu bottleneck kecil dapat mengganggu keseluruhan industri. Dan di saat pasar sedang sensitif, rantai pasok yang retak sedikit saja bisa membuat semua orang ikut waspada.






