Lebih dari 70 anggota Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meminta Presiden Donald Trump untuk mempertahankan larangan terhadap mobil buatan China. Seruan ini menambah panjang daftar kekhawatiran di Washington soal keamanan nasional, data pengguna, dan persaingan strategis di industri otomotif.
Dalam surat yang dikirim ke Gedung Putih, para anggota parlemen yang dipimpin Debbie Dingell dan Ro Khanna mendesak agar pembuat mobil China tidak diberi akses untuk membangun pabrik maupun menjual kendaraan di pasar Amerika. Mereka menilai langkah tersebut perlu dipertahankan agar industri otomotif domestik tidak kehilangan kendali di tengah kompetisi global yang makin keras.
Isu ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, tiga senator Demokrat juga sudah mengajukan seruan serupa menjelang pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping. Nada surat mereka tegas: Amerika Serikat tidak boleh menyerahkan industri otomotifnya kepada pesaing strategis yang sedang mengejar dominasi global. Pandangan seperti ini menunjukkan bahwa kendaraan China kini diperlakukan bukan sekadar sebagai produk impor, tetapi sebagai bagian dari pertarungan geopolitik.
Pemerintahan Joe Biden sendiri telah mengeluarkan aturan luas pada Januari 2025 yang pada praktiknya membatasi mobil China masuk ke Amerika Serikat. Alasan utamanya adalah keamanan nasional, terutama kekhawatiran bahwa kendaraan modern bisa mengumpulkan data sensitif dari pengguna. Ditambah lagi, mobil China juga terbebani tarif impor tinggi yang membuat peluang masuk ke pasar Amerika makin kecil.
Meski begitu, minat konsumen Amerika terhadap model asal China dilaporkan justru mulai meningkat. Situasi ini membuat perdebatan semakin rumit, karena di satu sisi pasar menunjukkan rasa ingin tahu, tetapi di sisi lain pemerintah dan banyak pelaku industri tetap menganggap risikonya terlalu besar. Kedutaan Besar China di AS pun menolak pendekatan yang dianggap diskriminatif itu dan meminta agar alasan keamanan nasional tidak disalahgunakan.
Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah memang berusaha menarik investasi untuk memperkuat industri domestik, tetapi tetap tidak akan menukar keamanan nasional demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Selain itu, hampir semua pembuat mobil besar di AS melalui asosiasi dagang mereka juga meminta agar pembatasan terhadap produsen China tetap dipertahankan.
Debat ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik dan mobil pintar sudah melampaui status produk komersial biasa. Mereka kini dipandang sebagai aset strategis yang bisa memengaruhi data, manufaktur, dan peta kekuatan industri. Karena itu, larangan terhadap mobil China di AS kemungkinan belum akan selesai dalam waktu dekat. Selama isu keamanan, tarif, dan persaingan teknologi masih panas, mobil bukan lagi sekadar mobil.






