Ferrari disebut sedang menyiapkan langkah besar lewat mobil listrik pertamanya yang diyakini bernama Ferrari Luce. Namun, sorotan awal bukan hanya tertuju pada statusnya sebagai EV perdana dari pabrikan asal Maranello, melainkan juga pada harga yang dikabarkan sangat tinggi.
Menurut laporan yang beredar, Ferrari Luce bisa dibanderol mulai sekitar 550.000 euro atau setara 645.000 dolar AS di pasar Eropa. Jika angka itu menjadi kenyataan, model ini akan langsung masuk daftar mobil listrik paling mahal di dunia dan menjadi produk produksi massal termahal kedua Ferrari setelah hypercar F80.
Harga tersebut menempatkan Luce jauh di atas sejumlah model lain di katalog Ferrari. Sebagai perbandingan, Ferrari Purosangue saat ini dijual mulai sekitar 400.000 euro. Bahkan model seperti 12Cilindri juga masih berada di bawah estimasi harga Luce. Dengan kata lain, Ferrari tampaknya tidak berniat membuat EV “ramah kantong”, karena memang dari awal definisinya sudah tidak pernah ke situ.
Di pasar mobil listrik, positioning ini juga terdengar sangat agresif. Ferrari Luce berpotensi dijual jauh lebih mahal dibanding Rolls-Royce Spectre yang di Amerika Serikat mulai dari kurang dari 400.000 dolar AS. Harga Luce juga akan meninggalkan mobil listrik premium lain seperti Porsche Taycan, Macan Electric, hingga Cayenne Electric dalam jarak yang sangat lebar.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai daya tarik Ferrari Luce di mata pelanggan tradisional merek tersebut. Selama ini, banyak penggemar Ferrari justru datang untuk sensasi mesin pembakaran internal yang emosional, suara mesin yang khas, dan karakter mekanis yang hidup. Mobil listrik dengan paket baterai berat tentu menghadirkan pengalaman berbeda yang belum tentu langsung diterima semua kalangan loyalis.
Meski demikian, Ferrari memiliki basis pelanggan yang terkenal kuat dan relatif tidak terlalu sensitif terhadap harga. Selama sebuah model membawa gengsi, performa, dan eksklusivitas yang sepadan dengan nama Ferrari, peluang untuk tetap laku tetap terbuka lebar. Dalam konteks ini, Ferrari kemungkinan tidak membidik volume besar, melainkan citra dan positioning di puncak pasar.
Sumber yang beredar juga menyebut bahwa harga akhir Ferrari Luce masih bisa berubah sekitar 10 persen dari angka dasar tersebut. Artinya, nilai jual riilnya masih belum final. Namun, bahkan jika sedikit bergeser, mobil ini tetap hampir pasti akan berada di level harga yang sangat tinggi untuk kategori EV.
Jika benar diluncurkan dengan banderol “di langit”, Ferrari Luce akan menjadi simbol bahwa era mobil listrik tidak selalu identik dengan efisiensi dan rasionalitas. Bagi Ferrari, EV pertama mereka tampaknya justru ingin hadir sebagai barang mewah ekstrem, bukan sekadar alat transportasi tanpa emisi. Jadi, kalau ada yang bertanya apakah mobil listrik bisa tetap terasa seperti Ferrari, jawabannya mungkin iya—asal dompetnya juga siap diajak hidup di atmosfer Ferrari.






