Tekanan untuk Tesla di Inggris tampaknya belum reda. Data penjualan bulan Februari menunjukkan penurunan yang cukup tajam, sementara pabrikan mobil listrik asal China justru terus menambah tenaga di pasar yang sama. Hasilnya, peta persaingan EV di Inggris makin panas—dan kali ini yang kepanasan bukan cuma baterai, tapi juga strategi.
Menurut data Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT), Tesla membukukan 2.422 unit penjualan di Inggris pada Februari 2026, turun dari 3.852 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dihitung, penurunannya sekitar 37% year-on-year—angka yang sulit ditutupi dengan senyum “AI autopilot”.
Yang menarik, penurunan Tesla terjadi saat pasar mobil baru di Inggris justru tumbuh. Total penjualan mobil baru pada Februari mencapai 90.100 unit, naik 7,2% dibanding tahun lalu dan menjadi Februari terbaik sejak 2004. Pertumbuhan ini disebut banyak didorong oleh pulihnya pembelian dari konsumen individu.
Tesla merespons data bulanan tersebut dengan catatan penting: perusahaan menilai statistik pendaftaran bulanan tidak selalu mencerminkan kondisi penjualan aktual. Menurut perwakilan Tesla, ritme pengiriman kendaraan dari pabrik ke Inggris membuat angka lebih akurat dilihat dalam konteks kuartalan, bukan per bulan.
Dalam komunikasinya, Tesla juga menyatakan jumlah pemesanan dan booking pada dua bulan awal 2026 disebut melampaui periode yang sama pada 2025 dan 2024. Namun, ada banyak pesanan yang belum “menjadi penjualan” di data bulanan karena kendaraan belum selesai didaftarkan dan belum dikirim ke pelanggan.
Tren serupa muncul dari lembaga riset transportasi New Automotive. Versi mereka menyebut penjualan Tesla di Inggris pada Februari turun hampir setengah, menjadi sekitar 2.208 unit. Angkanya memang berbeda, tapi arah ceritanya sama: Tesla sedang menahan laju, bukan mempercepat.
Di sisi lain, BYD jadi contoh paling nyata dari “serangan balik” pabrikan China. New Automotive mencatat penjualan BYD di Inggris tumbuh sekitar 40% pada Februari. Sementara SMMT menyebut pertumbuhan BYD bahkan mencapai 83%, meski total volume BYD masih belum melampaui Tesla. Perbedaan angka terjadi karena sumber data dan metode hitung yang berbeda, tetapi keduanya menegaskan kenaikan BYD.
Tekanan kompetitif ini membuat Tesla tidak bisa hanya mengandalkan narasi “versi lebih murah” dari Model Y atau Model 3. Untuk merebut kembali pangsa pasar di Inggris, Tesla perlu memastikan pasokan, strategi harga, dan nilai tambah yang benar-benar terasa bagi konsumen—terutama ketika opsi EV alternatif makin banyak dan makin agresif.
Menariknya, di beberapa negara Eropa lain, Tesla justru sempat menunjukkan sinyal pemulihan, misalnya peningkatan di Prancis, Portugal, Spanyol, Norwegia, dan Belgia. Namun Inggris masih jadi titik yang sulit, karena persaingan di sana sedang ramai-ramainya—ibarat konser, Tesla masih di panggung utama, tapi penonton sudah mulai melirik band baru dari China.






