Tottenham Hotspur datang ke Derby London Utara dengan kondisi yang jauh dari ideal. Pada laga pekan ke-27 Liga Premier yang dijadwalkan Minggu, 22 Februari 2026 pukul 23.30, skuad Tottenham disebut hanya punya 13 pemain yang bisa ikut latihan penuh jelang menghadapi Arsenal.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Igor Tudor, pelatih anyar yang ditunjuk sampai akhir musim. Ia menggantikan Thomas Frank yang dipecat, dan pertandingan kontra Arsenal langsung menjadi panggung debutnya—di tengah krisis personel yang bisa dibilang ekstrem.
Tottenham kehilangan total 12 pemain tim utama. Kapten Cristian Romero harus absen karena skorsing, sementara sisanya mengalami cedera. Daftar nama yang menepi pun panjang dan berpengaruh pada semua lini.
Pemain yang cedera antara lain Richarlison, Mohammed Kudus, Kevin Danso, Destiny Udogie, Rodrigo Bentancur, Pedro Porro, Ben Davies, Dejan Kulusevski, James Maddison, Wilson Odobert, hingga Lucas Bergvall. Dengan komposisi seperti itu, pilihan rotasi dan variasi taktik otomatis menyempit.
Dalam konferensi pers pra-pertandingan pada 20 Februari, Tudor mengakui kondisi tersebut jarang terjadi. Ia menyebut banyak pemain menepi karena cedera serius, dan jumlah pemain latihan yang hanya 13 orang jelas bukan situasi ideal untuk menyiapkan laga sebesar derby.
Meski begitu, Tudor menolak menjadikan krisis pemain sebagai alasan untuk menyerah sebelum bertanding. Ia menekankan bahwa semua orang paham bobot Derby London Utara, dan Tottenham tetap dituntut mengejar tiga poin, seberapapun tipis opsi yang dimiliki.
Dari sisi klasemen, Tottenham sedang dalam periode yang mengkhawatirkan. Mereka tidak menang dalam delapan laga Liga Premier beruntun, dan hanya memetik dua kemenangan dari 17 pertandingan terakhir. Rentetan itu membuat Tottenham terperosok ke posisi ke-16.
Yang membuat situasi makin sensitif, jarak Tottenham dengan zona degradasi hanya lima poin. Tudor secara terbuka menyebut prioritas utama saat ini adalah memastikan tim aman lebih dulu, bukan langsung membebani skuad dengan target lain seperti menaikkan posisi atau mengejar ambisi tambahan.
Ia juga tidak memberikan janji besar soal langsung mengembalikan tradisi permainan menyerang yang sering dilekatkan pada identitas klub. Menurut Tudor, berbicara filosofi akan lebih mudah jika ia memiliki pramusim panjang dengan 20 pemain sehat, sementara yang dihadapi sekarang adalah keadaan darurat yang memaksanya mencari solusi paling realistis untuk 13 pemain.
Dalam nada tegas, Tudor menggambarkan misi ini sebagai pekerjaan yang menuntut fokus total. Ia menekankan dirinya datang untuk bekerja di masa yang sulit bagi klub, dan setiap hari dipakai untuk memikirkan cara membuat tim tampil lebih baik, bukan untuk sekadar “menikmati kota”.
Ketika ditanya apakah Tottenham sudah masuk ke pertarungan degradasi, Tudor menilai selisih poin tidak boleh mengubah perilaku dan fokus kerja tim. Ia kembali menekankan bahwa jalan keluar satu-satunya adalah membuat Tottenham menjadi tim yang lebih baik, dan ia menjawab singkat “100%” saat ditanya keyakinannya Tottenham tetap bermain di Liga Premier musim depan.
Menariknya, di tengah performa liga yang jatuh, Tottenham tetap mengantongi tiket ke babak 16 besar Liga Champions berkat finis empat besar pada fase grup. Namun, dengan kondisi domestik yang genting dan badai cedera, laga kontra Arsenal menjadi ujian awal yang menentukan arah kerja Tudor pada sisa musim.






