Manchester United disebut belum ingin terburu-buru menunjuk pelatih kepala permanen meski performa tim bersama Michael Carrick terus menunjukkan hasil positif. Di tengah musim yang masih berjalan, manajemen Old Trafford memilih pendekatan yang lebih hati-hati dan evaluatif, alih-alih langsung mengubah pelatih interim menjadi pelatih jangka panjang hanya karena beberapa pekan yang terlihat menjanjikan.
Carrick saat ini memang menjadi sosok yang sangat diperhitungkan. Dalam 10 pertandingan terakhir, ia membawa tim meraih tujuh kemenangan, dua hasil imbang, dan hanya satu kekalahan. Catatan itu cukup untuk membuat Manchester United naik ke posisi ketiga klasemen Liga Inggris dan membuka peluang lebar menuju tiket Liga Champions musim depan. Bagi klub sebesar United, perkembangan ini tentu tidak bisa dianggap kecil.
Hasil tersebut membuat dewan direksi merasa keputusan menunjuk Carrick sebagai pengganti Ruben Amorim pada Januari lalu adalah langkah yang tepat. Ia berhasil menenangkan suasana, mengembalikan stabilitas tim, dan menjaga peluang kompetitif tetap terbuka di sisa musim. Dalam situasi krusial seperti ini, performa yang konsisten sering kali lebih bernilai daripada pidato motivasi panjang atau konferensi pers yang terdengar meyakinkan.
Namun, terlepas dari kemajuan itu, manajemen disebut tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu. Mereka masih belajar dari pengalaman menunjuk Ole Gunnar Solskjaer secara permanen setelah masa interim yang sangat baik pada 2019. Saat itu, keputusan tersebut sempat dipuji, tetapi dalam jangka lebih panjang performa tim kembali jatuh dan proyek yang dibangun gagal memberi kestabilan seperti yang diharapkan. Luka lama seperti itu biasanya membuat klub besar lebih paranoid dari kelihatannya.
Karena itu, keputusan soal pelatih utama baru tidak akan diambil sebelum musim 2025/26 resmi berakhir. United memilih melakukan penilaian menyeluruh terhadap semua aspek, mulai dari hasil akhir musim, perkembangan ruang ganti, kestabilan permainan, hingga kondisi pasar pelatih. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dewan direksi tidak ingin memilih dengan dasar emosi sesaat, melainkan dari kalkulasi yang lebih panjang.
Di luar Carrick, pilihan yang tersedia di pasar juga tidak terlalu meyakinkan. Oliver Glasner sempat masuk radar, tetapi performa Crystal Palace yang kurang stabil membuat namanya tidak lagi sekuat sebelumnya. Sejumlah kandidat lain seperti Gareth Southgate, Roberto De Zerbi, dan Thomas Frank juga disebut sudah tidak lagi berada di daftar utama. Sementara nama-nama besar seperti Xabi Alonso, Luis Enrique, dan Thomas Tuchel punya kendala atau masa depan yang belum terbuka.
Situasi itu secara otomatis membuat posisi Carrick semakin kuat. Dalam kondisi pasar yang tidak menyediakan banyak opsi elite yang realistis, pelatih interim yang sedang berhasil tentu akan terlihat sebagai pilihan paling logis. Apalagi jika ia mampu menutup musim dengan tiket Liga Champions dan menjaga momentum tim tetap positif. Dalam sepak bola modern, “solusi sementara” kadang tinggal selangkah dari status permanen, terutama kalau hasilnya konsisten.
Meski begitu, untuk saat ini Manchester United tetap memilih menunggu. Carrick memang punya peluang nyata untuk dipertahankan dalam jangka panjang, tetapi klub belum ingin mengikat keputusan terlalu dini. Bagi Old Trafford, akhir musim nanti akan menjadi penentu apakah Carrick sekadar penjaga ritme yang bagus, atau benar-benar orang yang pantas memegang kemudi penuh. Sampai saat itu tiba, kursinya belum sepenuhnya milik siapa pun.






