Brasil memasuki hitungan akhir menuju Piala Dunia 2026 dengan suasana yang jauh dari tenang. Di tengah persiapan turnamen, perhatian publik justru tersedot pada satu pertanyaan besar: apakah Neymar masih layak menjadi pusat harapan, dan apakah Carlo Ancelotti benar-benar orang yang tepat untuk mengembalikan identitas sepak bola Brasil?
Secara tradisi, atmosfer menjelang Piala Dunia di Brasil biasanya penuh optimisme. Jalanan dihias, orang-orang bicara soal peluang juara, dan ekspektasi tinggi muncul nyaris otomatis. Namun kali ini kepercayaan itu terasa lebih rapuh. Kedatangan Ancelotti yang diharapkan membawa stabilitas setelah meninggalkan Real Madrid belum sepenuhnya menjawab kegelisahan publik. Tim dianggap pragmatis, terorganisasi, tetapi belum memancarkan kreativitas yang identik dengan gaya jogo bonito.
Salah satu pemicu kontroversi terbesar adalah absennya Neymar dari daftar pemain untuk dua laga FIFA terakhir melawan Prancis dan Kroasia. Keputusan itu memancing perdebatan karena laga tersebut menjadi simulasi terakhir sebelum putaran final. Banyak yang menilai pengalaman dan kualitas Neymar masih dibutuhkan, apalagi Brasil belum benar-benar pulih dari luka setelah tersingkir di perempat final Piala Dunia 2022 oleh Kroasia.
Statistik Neymar jelas tidak bisa disepelekan. Pada usia 34 tahun, ia tetap tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Brasil dengan 79 gol dari 128 penampilan. Beberapa pihak bahkan percaya dia masih bisa memerankan sosok penyelamat seperti Romario pada 1994 atau Ronaldo Nazario pada 2002. Romario sendiri ikut memberi dukungan, sementara aktor Rafael Zulu menyamakan peran Neymar dengan simbol yang tak tergantikan dalam sebuah pertunjukan besar.
Namun Ancelotti memilih bertahan pada pendiriannya. Pelatih asal Italia itu tidak memasukkan Neymar dalam lima pemusatan latihan terakhir, dengan alasan kondisi fisik dan performa sang pemain belum berada di level tertinggi. Dari sudut pandangnya, membangun tim untuk Piala Dunia tidak boleh bergantung pada nostalgia. Ia ingin skuad yang benar-benar siap, bukan sekadar kumpulan nama besar yang masih menjual kenangan lama.
Masalah Neymar juga tidak berhenti di urusan teknis. Dalam periode terakhir, ia kembali disorot karena aktivitas di luar lapangan. Neymar sempat absen saat Ancelotti hadir langsung untuk memantaunya di Santos, lalu tampil dua pertandingan sebelum kembali beristirahat. Klub menjelaskan hal itu sebagai bagian dari pengelolaan beban, tetapi media Brasil menyoroti aktivitas poker online dan promosi yang memunculkan pertanyaan soal fokus sang pemain.
Hubungan Neymar dengan Federasi Sepak Bola Brasil juga disebut tidak hangat. Ketegangan kecil seperti polemik ucapan ulang tahun ikut menambah kesan bahwa hubungan kedua pihak tidak seideal dulu. Di sisi lain, Ancelotti justru mulai membentuk kerangka baru tanpa terlalu bergantung pada mantan pemain Barcelona dan PSG itu. Di lini depan, Vinicius dan Raphinha diproyeksikan menjadi andalan sayap, sedangkan Matheus Cunha dilihat sebagai opsi penting di tengah, bahkan mungkin memakai nomor 10 jika Neymar tidak hadir.
Pada akhirnya, ujian terbesar bukan hanya milik Neymar, tetapi juga milik Ancelotti. Brasil masih punya banyak bakat, termasuk Endrick, Gabriel Martinelli, dan Joao Pedro, namun kedalaman pemain tidak selalu otomatis menyatukan kepercayaan publik. Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung untuk menjawab apakah Ancelotti mampu menyatukan tim ini, mengembalikan keyakinan nasional, dan mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Di Brasil, kegagalan tidak pernah dianggap sekadar hasil buruk. Ia selalu terasa seperti perkara identitas.






