Leicester City sedang menghadapi salah satu fase paling berat dalam sejarah modern klub. Tim yang satu dekade lalu pernah mengejutkan dunia dengan menjuarai Liga Inggris kini justru berkutat dengan ancaman degradasi, hukuman poin, dan tekanan keuangan yang tidak ringan. Situasi ini membuat Leicester bukan hanya sedang bertarung di lapangan, tetapi juga sedang mencoba menyelamatkan arah klub secara keseluruhan.
Pada 27 Maret 2026, Leicester mengumumkan kerugian mencapai 71,1 juta pound. Angka ini menambah beban klub yang sebelumnya sudah terkena pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan Profit and Sustainability Rules atau PSR. Hukuman itu menjatuhkan Leicester ke zona merah Championship ketika musim tinggal menyisakan tujuh putaran, membuat ancaman turun lagi ke level lebih rendah terasa semakin nyata.
Klub memang telah mengajukan banding atas pemotongan poin tersebut, dan hasil peninjauannya diperkirakan baru akan muncul dalam beberapa pekan ke depan. Namun, dalam sepak bola, waktu sering kali terasa jauh lebih cepat saat posisi klasemen sedang terbakar. Leicester kini harus menjalani sisa musim dengan tekanan berlapis: bertahan secara kompetitif sembari menunggu keputusan administratif yang bisa ikut memengaruhi nasib mereka.
Laporan keuangan terbaru juga belum memasukkan sejumlah penjualan pemain setelah 30 Juni 2021. Termasuk di antaranya transfer Mads Hermansen ke West Ham United, Kasey McAteer ke Ipswich Town, dan James Justin ke Leeds United. Leicester juga akan menerima dana besar dari Stuttgart untuk transfer Bilal El Khannouss. Penjualan pemain kini terlihat bukan lagi opsi tambahan, melainkan bagian dari strategi utama klub untuk bertahan hidup.
Dalam kondisi keuangan yang ketat, manajemen Leicester secara terbuka mengidentifikasi penjualan bintang sebagai langkah penting dalam membangun ulang skuad. Striker Abdul Fatawu disebut mulai menarik perhatian sejumlah klub, termasuk dari Premier League. Ini menunjukkan bahwa Leicester kemungkinan akan terus melepas aset terbaiknya demi menyeimbangkan neraca, meski langkah seperti itu biasanya membuat proses kebangkitan di lapangan jadi lebih rumit.
Klub juga menunjuk Kevin Davies sebagai direktur eksekutif baru dengan tugas utama membantu memperbaiki situasi keuangan. Manajemen menegaskan bahwa stabilitas ekonomi adalah prioritas pada periode ini. Pilihan kata seperti itu memperlihatkan betapa serius masalah yang sedang dihadapi Leicester. Karena ketika klub sudah bicara soal “prioritas utama” pada ekonomi, biasanya artinya persoalan di lapangan tidak lagi bisa dipisahkan dari isi dompet.
Yang membuat situasi ini terasa lebih tragis adalah kontras dengan masa lalu Leicester sendiri. Hanya sekitar sepuluh tahun lalu, klub ini menciptakan salah satu kisah terbesar dalam sejarah sepak bola ketika menjuarai Premier League musim 2015/16 bersama Claudio Ranieri. Saat itu, mereka punya fondasi kuat, identitas permainan jelas, dan deretan pemain seperti N’Golo Kante, Riyad Mahrez, serta Jamie Vardy yang menjadi simbol keajaiban sepak bola modern.
Kini, Leicester berada di titik yang sangat berbeda. Dari klub yang dulu menulis dongeng menjadi tim yang harus menghitung kerugian, menjual pemain, dan berjuang agar tidak jatuh lebih dalam. Perjalanan klub ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, kejayaan tidak pernah menjamin rasa aman jangka panjang. Dan bagi Leicester, tugas terberat sekarang bukan mengulang keajaiban lama, tetapi memastikan mereka masih punya panggung untuk bermimpi lagi di masa depan.






