Pelatih Công an Hà Nội (CAHN), Mano Polking, akhirnya angkat bicara soal keputusan yang membuat timnya “kalah di meja” pada ajang AFC Champions League Two (ACL Two) 2025/2026. Ia mengakui klub tak punya alasan selain menyalahkan diri sendiri karena menurunkan pemain yang ternyata tidak memenuhi syarat bertanding.
Awalnya, CAHN menang telak 4-0 atas Tampines Rovers pada leg pertama babak 16 besar yang dimainkan 11 Februari. Kemenangan besar itu seharusnya menjadi modal emas untuk melangkah ke fase berikutnya.
Namun situasi berbalik setelah AFC menilai CAHN melanggar status kelayakan bermain. Dua nama—Rogerio Alves dan Stefan Mauk—masih tercatat tampil, padahal keduanya semestinya menjalani skors karena akumulasi tiga kartu kuning di fase grup. Akibatnya, AFC menetapkan hasil leg pertama menjadi kekalahan 0-3 bagi CAHN.
Tak hanya skor, klub juga dikenai denda 2.000 dolar AS. Selain itu, AFC memotong setengah dari dukungan finansial yang nilainya 80.000 dolar AS sesuai ketentuan kompetisi. Dengan satu keputusan, kemenangan 4-0 “hilang” dan situasi agregat berubah drastis.
Polking menyebut kejadian ini sebagai kesalahan besar yang tidak ia sukai sama sekali, karena bisa mengubah jalannya pertandingan bahkan satu musim. Ia juga menegaskan, seandainya CAHN berada di posisi yang diuntungkan oleh kesalahan lawan, ia tetap tidak nyaman karena menurutnya sepak bola seharusnya ditentukan di lapangan.
Ia menilai masalah ini sebenarnya dapat dicegah jika komunikasi internal klub dan pihak penyelenggara berlangsung lebih rapi serta sederhana. Polking lalu mengingatkan contoh musim lalu di ACL Two ketika Sanfrecce Hiroshima sempat menang 6-1 atas Lion City Sailors, tetapi kemudian dinyatakan kalah 0-3 karena menurunkan Valere Germain yang melanggar status kelayakan bermain akibat sanksi yang terbawa dari klub lamanya, Macarthur FC.
Polking juga menyoroti sistem yang menurutnya masih menyisakan celah: AFC tidak menyediakan mekanisme “pengumuman otomatis” daftar pemain yang terkena skors sebelum setiap pertandingan, sebagaimana yang sering ditemukan dalam sistem lain. Dalam regulasi yang berlaku, klub diwajibkan memeriksa sendiri kelayakan pemain—dan kesalahan pun bisa terjadi di berbagai level sepak bola.
Ia mengungkap bahwa pada rapat teknis sehari sebelum pertandingan, CAHN sudah menerima dokumen yang menyatakan para pemain bisa dimainkan. Namun di bagian catatan kecil, ada pesan yang intinya meminta klub tetap memverifikasi sendiri dan penyelenggara tidak bertanggung jawab jika ada kekeliruan. Bagi Polking, ini menjadi titik yang perlu dibenahi agar kasus serupa tidak berulang.
Meski begitu, Polking menolak menyalahkan pihak luar dan tetap menegaskan ini kesalahan klub. Ia hanya berharap ke depan ada prosedur yang lebih “protektif”, misalnya peringatan tegas dari pihak berwenang sehari sebelum laga bila ada pemain yang tidak boleh turun.
Dengan perubahan agregat dari menang besar menjadi tertinggal 0-3, CAHN menghadapi tantangan berat pada leg kedua di Stadion Jalan Besar, Singapura. Polking menilai kualitas timnya masih kuat, tetapi hambatan utama justru psikologis: mengejar selisih tiga gol dari posisi tertinggal terasa berbeda dibanding memulai dari kedudukan imbang.
Ia menekankan tim harus mencetak gol demi gol tanpa terburu-buru. Sebab bila kebobolan sekali saja, beban gol yang harus dikejar bisa melonjak jauh lebih berat. CAHN pun dituntut bermain disiplin, efektif, dan tetap tenang dalam situasi yang sudah terlanjur berubah oleh kesalahan administrasi.






