Skuad Italia menuai sorotan tajam bukan karena hasil pertandingan mereka sendiri, melainkan karena reaksi yang dianggap berlebihan setelah mengetahui calon lawan di final play-off Piala Dunia 2026. Sejumlah pemain Azzurri terlihat merayakan keberhasilan Bosnia & Herzegovina menyingkirkan Wales, seolah rintangan terakhir menuju putaran final sudah otomatis menjadi lebih mudah.
Momen itu terekam oleh siaran Rai Sport. Federico Dimarco, Pio Esposito, dan beberapa pemain lain berkumpul di sekitar tablet milik kiper Guglielmo Vicario untuk menyaksikan adu penalti Bosnia kontra Wales. Begitu Kerim Alajbegovic sukses menjalankan tendangan penentu, para pemain Italia yang berada di lapangan langsung bersorak. Reaksi tersebut cepat menyebar dan menimbulkan perdebatan di Italia.
Mantan pemain yang kini menjadi komentator, Lele Adani, termasuk pihak yang paling keras mengkritik. Dalam siaran televisi, ia menilai selebrasi itu tidak pada tempatnya dan bisa mencerminkan hilangnya fokus tim. Menurut Adani, kegembiraan seperti itu seharusnya baru muncul setelah tiket ke Piala Dunia benar-benar diamankan pada 31 Maret, bukan saat lawan final baru saja diketahui.
Dari sudut pandang psikologis, reaksi para pemain Italia dianggap menunjukkan rasa lega karena terhindar dari Wales. Secara ranking FIFA, Bosnia memang berada di posisi yang lebih rendah, sehingga di atas kertas terlihat lebih mudah daripada Wales. Selain itu, Italia masih membawa trauma dari kekalahan telak 0-3 dan 1-4 melawan Norwegia di fase kualifikasi, yang membuat mereka terlihat kurang nyaman menghadapi tim bergaya Inggris dan bertempo tinggi.
Namun menganggap Bosnia sebagai lawan yang lebih enteng justru dinilai berbahaya. Di bawah arahan Sergej Barbarez, Bosnia berkembang menjadi tim yang sangat keras secara fisik dan disiplin dalam duel. Mereka memiliki rata-rata postur tinggi, kuat dalam perebutan bola udara, dan mampu mengubah pola 4-4-2 menjadi 3-5-2 dengan cepat saat menyerang balik. Ini bukan tipe lawan yang bisa diperlakukan seperti soal pilihan ganda yang jawabannya sudah ketahuan.
Italia juga dianggap kurang memiliki pengetahuan langsung tentang kekuatan Bosnia dibanding sebaliknya. Banyak pemain Italia saat ini lebih banyak berputar di kompetisi domestik dan belum terlalu akrab dengan lawan Balkan itu. Sementara Bosnia justru punya pemain yang rutin tampil di Serie A, seperti Sead Kolasinac di Atalanta dan Tarik Muharemovic dari Sassuolo, yang bisa membantu membaca kebiasaan permainan Azzurri secara lebih detail.
Ancaman terbesar tetap datang dari Edin Dzeko. Penyerang veteran itu bukan hanya punya pengalaman besar, tetapi juga sangat memahami atmosfer sepak bola Italia berkat karier panjangnya di Serie A. Dalam laga-laga seperti ini, pemain dengan pengalaman dan ketenangan sering lebih berbahaya daripada lawan yang sekilas terlihat lebih atletis. Italia mungkin merasa mendapat undian yang lebih baik, tetapi Bosnia punya cukup amunisi untuk menjadikan asumsi itu tampak sangat naif.
Final play-off pada 31 Maret akan menjadi penguji sesungguhnya. Apakah reaksi para pemain Italia tadi hanya bentuk spontan dari rasa lega, atau justru pertanda bahwa mereka terlalu cepat merasa aman? Pertandingan nanti yang akan menjawab. Satu hal pasti, sepak bola punya kebiasaan buruk mempermalukan tim yang terlalu percaya diri sebelum waktunya. Dan Italia, dengan sejarah absen di dua Piala Dunia terakhir, jelas tidak punya banyak ruang untuk mengulangi kesalahan psikologis serupa.






