Keputusan mengejutkan datang dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Badan tersebut menyatakan hasil final Piala Afrika 2026 dibatalkan, dan Senegal yang sebelumnya dinyatakan menang kini disebut dilucuti dari gelarnya. Putusan itu diumumkan pada Selasa malam, sekitar 57 hari setelah laga puncak digelar.
Dalam versi CAF, tuan rumah Maroko justru ditetapkan menang 3-0 lewat putusan disiplin. Panel banding mengabulkan keberatan Federasi Sepak Bola Maroko yang menilai jalannya pertandingan terganggu akibat aksi Senegal meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit.
Final yang dimaksud berlangsung di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026. Senegal sempat menang 1-0 lewat gol di masa tambahan, namun kemenangan itu kini dinilai “bermasalah” karena insiden besar menjelang akhir laga.
Kekacauan bermula pada menit-menit terakhir injury time. Wasit Jean-Jacques Ndala melakukan pengecekan VAR dan kemudian menunjuk titik putih untuk Maroko. Keputusan itu memicu protes keras dari pemain Senegal, hingga mereka keluar lapangan atas arahan pelatih Pape Thiaw.
Situasi di stadion sempat memanas dan laga tertahan kurang lebih 15 menit. Laporan menyebut ada pendukung Senegal yang turun ke area lapangan, memaksa aparat keamanan turun tangan untuk menenangkan situasi sebelum pertandingan dilanjutkan.
Setelah laga kembali berjalan, Maroko mengeksekusi penalti melalui Brahim Diaz. Lalu, Senegal mencetak gol penentu lewat Pape Gueye pada menit ke-94 yang saat itu dianggap mengunci trofi. Namun, CAF menilai rangkaian peristiwa “meninggalkan lapangan” sudah cukup untuk menimbulkan konsekuensi disiplin.
CAF merujuk pada ketentuan kompetisi, khususnya pasal yang menyebut sebuah tim dinyatakan kalah bila meninggalkan lapangan sebelum pertandingan selesai tanpa izin wasit. Dengan aturan itu, sanksi skor 0-3 diberlakukan, kecuali lawan sudah unggul lebih besar—yang tidak terjadi pada laga tersebut.
Federasi Maroko disebut menempuh jalur keberatan segera setelah final, menilai aksi Senegal mengganggu “psikologi dan performa” tim tuan rumah. Sementara di sisi lain, putusan banding CAF menyatakan permohonan lain di luar pembalikan skor tidak dikabulkan.
Di tengah kontroversi, reaksi dari kubu Senegal juga keras. Beberapa pemain mengunggah foto perayaan dan medali di media sosial sebagai penegasan simbolik bahwa mereka tidak menerima keputusan tersebut. Unggahan bernada sindiran pun bermunculan, seolah mengatakan: di atas kertas boleh berubah, tetapi di ingatan mereka tetap juara.
Final ini ikut disebut sebagai salah satu laga paling gaduh dalam sejarah Piala Afrika, bukan hanya karena drama VAR dan walkout, tetapi juga insiden kecil yang memperkeruh suasana di pinggir lapangan. Bagi banyak pihak, keputusan CAF menambah panjang daftar pertandingan besar yang berakhir dengan debat lebih ramai daripada selebrasi.






