Robot humanoid makin sering muncul bukan sekadar di laboratorium, tetapi juga di panggung hiburan besar. Dari Hangzhou, Unitree Robotics disebut ingin mempercepat industrialisasi robot manusia, setelah penampilannya di Gala Tahun Baru yang disiarkan CCTV memancing perhatian jutaan penonton.
Jika sebelumnya demonstrasi Unitree masih dinilai “ringkas” dan lebih bersifat pamer teknologi, panggung Gala Tahun Baru menjadi pembuktian yang lebih agresif. Robot mereka tampil berdampingan dengan seniman bela diri sungguhan, memperagakan rangkaian gerakan kung-fu yang menonjolkan stabilitas, kontrol, dan respons motorik.
Efek media ini ternyata bukan hanya soal popularitas. CEO Unitree, Wang Xingxing, dikabarkan menyampaikan target yang membuat industri menoleh: perusahaan menargetkan produksi dan pengiriman sekitar 20.000 robot humanoid pada tahun 2026.
Target itu tampak ambisius jika dibandingkan performa sebelumnya. Disebutkan bahwa pada tahun sebelumnya, Unitree menyalurkan sekitar 5.500 unit. Artinya, perusahaan membayangkan lompatan beberapa kali lipat dalam kurun waktu yang tidak panjang, dengan tantangan utama di sisi produksi massal, rantai pasok, dan reliabilitas perangkat.
Secara global, pengiriman robot humanoid diperkirakan bisa mencapai puluhan ribu unit, dan porsi perusahaan Tiongkok disebut dapat menyumbang sekitar separuhnya. Ini menggambarkan persaingan yang makin ketat, bukan hanya antara merek, tetapi juga antar-ekosistem teknologi dan manufaktur.
Di sisi teknologi, sorotan banyak tertuju pada robot G1, generasi terbaru Unitree yang dipertunjukkan dengan gerakan kompleks. Disebutkan robot mampu melakukan aksi akrobatik, termasuk lompatan di trampolin hingga sekitar tiga meter, yang menuntut perhitungan keseimbangan, kecepatan, dan koreksi posisi secara real-time.
Robot itu juga diperlihatkan dapat berlari cepat dengan kecepatan sekitar 4 meter per detik, atau mendekati 14 km/jam. Selain itu, ada demonstrasi pendakian vertikal di dinding yang memperlihatkan peningkatan pada koordinasi kaki-tangan, daya cengkeram, serta perencanaan gerak otonom.
Menariknya, momen jatuh saat pertunjukan disebut sengaja dimasukkan ke dalam koreografi. Dari sudut pandang rekayasa, ini bisa dibaca sebagai upaya menunjukkan kemampuan pemulihan (recovery) setelah kegagalan, yang sangat penting jika robot nantinya diharapkan bekerja di lingkungan nyata yang penuh ketidakpastian.
Meski demonstrasi panggung terlihat meyakinkan, pertanyaan berikutnya ada pada penerapan sehari-hari: robot seperti ini akan dipakai di sektor apa, seberapa aman beroperasi dekat manusia, dan bagaimana biaya kepemilikan dapat ditekan agar pasar massal benar-benar terbuka.
Dengan target 20.000 unit pada 2026, Unitree seolah menantang dirinya sendiri untuk menyeimbangkan dua hal: pencapaian teknis yang memukau dan kedisiplinan manufaktur yang konsisten. Jika keduanya berhasil dipenuhi, robot humanoid bukan lagi barang pameran, melainkan produk industri yang mulai mengisi ruang kerja dan layanan publik.






