Andy Yen, pimpinan Proton, memperingatkan bahwa anonimitas di internet sedang berada dalam posisi yang semakin rapuh. Menurutnya, gelombang undang-undang verifikasi usia yang kini menguat di Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris berisiko mengubah internet menjadi ruang yang jauh lebih mudah diawasi dan lebih sulit dijalankan secara anonim.
Yen menilai bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar soal perlindungan anak, melainkan juga menyangkut kebebasan digital secara lebih luas. Jika platform dipaksa mengumpulkan dokumen identitas, nomor kartu kredit, atau selfie verifikasi dalam skala besar, maka data sensitif akan terus menumpuk di banyak layanan sekaligus. Bagi Proton, ini adalah resep yang kurang ideal bagi keamanan siber.
Masalahnya bertambah karena setiap layanan biasanya bekerja dengan penyedia kontrol yang berbeda-beda. Artinya, data pengguna tersebar di banyak titik dan risiko kebocoran ikut meningkat. Kasus peretasan yang terjadi pada Discord pada Oktober 2025 sering dijadikan contoh bagaimana data verifikasi usia bisa menjadi sasaran yang sangat menarik bagi peretas. Sekalipun sebuah sistem diklaim aman, tidak ada jaminan bahwa ia benar-benar kebal dari kebocoran.
Yen juga mempertanyakan apakah masyarakat bisa sepenuhnya mempercayakan data identitas kepada pemerintah atau raksasa teknologi seperti Apple, Google, dan Microsoft. Menurutnya, perusahaan-perusahaan itu memiliki riwayat panjang dalam mengolah data pribadi dan berurusan dengan denda antimonopoli besar. Karena itu, memusatkan identitas pengguna di tangan segelintir pemain besar bukanlah solusi yang sepenuhnya meyakinkan.
Ia menyoroti risiko lanjutan yang mungkin muncul bila verifikasi identitas menjadi sistemik. Pembatasan berdasarkan kewarganegaraan, pemblokiran sewenang-wenang, atau pengecualian terhadap kelompok tertentu bisa terjadi jika data identitas terlalu mudah dipakai untuk pengawasan. Dalam situasi seperti itu, anonimitas yang selama ini memberi ruang bagi pelapor, aktivis, atau orang yang rentan justru bisa terkikis.
Meski begitu, Yen tidak menolak perlindungan anak di bawah umur. Ia justru mendorong pendekatan yang lebih sederhana dan lebih privat, seperti kontrol orang tua langsung pada perangkat, pembatasan verifikasi usia hanya untuk situs tertentu, serta sistem yang dianonimkan dan dienkripsi secara lokal. Dengan cara ini, perlindungan bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan terlalu banyak kebebasan pengguna.
Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah menjaga keseimbangan antara keamanan dan privasi. Jika langkah legislasi terlalu cepat tetapi tidak dibarengi desain yang cermat, maka akibatnya bisa meluas ke seluruh ekosistem digital. Andy Yen mengingatkan bahwa internet yang sehat tidak dibangun dari pengawasan total, melainkan dari rasa aman yang tidak menghilangkan hak pengguna untuk tetap anonim saat dibutuhkan.






