Tekanan regulator Eropa terhadap Google kembali menguat. Kali ini sorotan mengarah ke bisnis iklan online, setelah muncul kabar bahwa Komisi Eropa memulai langkah penyelidikan baru terkait cara Google menetapkan harga iklan di ekosistemnya.
Menurut informasi yang beredar, otoritas di Brussels belum secara resmi mengumumkan pembukaan prosedur formal. Meski begitu, ada indikasi kuat bahwa pemeriksaan sedang berlangsung: permintaan informasi telah dikirim kepada pelanggan dan juga pesaing Google, sebuah sinyal bahwa regulator ingin melihat data dari berbagai sisi, bukan hanya dari perusahaan yang diselidiki.
Yang menjadi inti kekhawatiran adalah dugaan penyalahgunaan posisi dominan. Regulator menilai Google memiliki dominasi di beberapa segmen periklanan digital, sehingga muncul risiko perusahaan dapat “menaikkan harga secara artifisial” pada proses lelang iklan. Jika terjadi, dampaknya tidak kecil karena pengiklan bisa dirugikan melalui biaya yang lebih mahal tanpa transparansi yang memadai.
Di Uni Eropa, isu persaingan usaha bukan sekadar wacana. Ketika dugaan pelanggaran terbukti, sanksi bisa sangat besar. Dalam skenario terberat, denda disebut dapat mencapai 10% dari pendapatan global tahunan perusahaan—angka yang bagi raksasa teknologi setara dengan hukuman finansial raksasa.
Langkah ini juga tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa aktif menggunakan perangkat regulasi untuk menertibkan praktik platform besar, termasuk menjatuhkan denda miliaran euro pada sejumlah kasus. Eropa juga mendorong pembukaan akses yang lebih kompetitif pada platform tertentu dan memperluas pengawasan pada tata kelola data.
Konteks internasional ikut mempertegas arah angin. Di Amerika Serikat, kasus iklan online Google telah lama berjalan dan sempat mencapai titik penting ketika seorang hakim federal pada April 2025 menyebut Google sebagai “monopoli iklan online” dalam perkara yang berangkat dari gugatan Departemen Kehakiman.
Otoritas AS menilai dominasi Google memungkinkan perusahaan memberlakukan kondisi tarif yang merugikan pengiklan, sambil mempertahankan porsi pendapatan yang dianggap tidak seimbang. Dalam diskusi publik, sempat muncul opsi ekstrem seperti mendorong penjualan langsung (divestasi) unit “ad tech”, walau keputusan final belum diambil.
Di Eropa sendiri, ruang lingkup pengawasan terhadap Google makin melebar. Tidak hanya soal strategi iklan secara umum, tetapi juga area sensitif seperti iklan untuk anak di bawah umur yang sempat menjadi perhatian pada Desember 2024. Di sisi lain, ada pula tuntutan terkait ekosistem Android, termasuk isu persaingan bagi layanan lain dan pembagian data tertentu.
Dengan bertambahnya front pemeriksaan, Google berada dalam situasi yang tidak mudah. Perusahaan harus menghadapi regulator di berbagai wilayah yang menilai praktik bisnis digital harus lebih terbuka, bisa diaudit, dan tidak menutup peluang kompetitor.
Jika investigasi Komisi Eropa berkembang menjadi prosedur formal, babak berikutnya kemungkinan akan diisi pertukaran dokumen, argumentasi teknis soal mekanisme lelang iklan, hingga pertanyaan besar: apakah dominasi pasar digunakan untuk mengerek harga secara tidak wajar. Untuk pengiklan, hasil akhir kasus ini dapat menentukan seperti apa transparansi dan biaya iklan digital ke depan.






