Peta kekuatan teknologi global kini mengalami pergeseran besar. Dominasi satu kawasan seperti Silicon Valley tidak lagi menjadi satu-satunya poros inovasi, seiring munculnya perusahaan teknologi bernilai tinggi di berbagai belahan dunia. Fenomena ini diulas secara mendalam dalam buku The New Geography of Innovation karya Mehran Gul.
Awalnya, buku tersebut dirancang sebagai kajian mengenai kekuatan teknologi Amerika Serikat. Namun dalam proses penelitiannya, Gul menemukan fakta yang lebih luas: perusahaan teknologi berkelas dunia tumbuh cepat dan tersebar di banyak negara, dari Asia hingga Eropa. Temuan inilah yang mendorongnya menulis buku tersebut, yang dirilis pada Juli 2025 dan mendapat sorotan dari berbagai media internasional.
Melalui bukunya, Gul mengajak pembaca menjelajahi pusat-pusat inovasi di negara seperti Singapura, Swiss, Finlandia, hingga Inggris. Ia memperkenalkan peran akademisi, pengusaha, investor, serta pemerintah dalam membentuk ekosistem teknologi global yang semakin beragam dan terdesentralisasi.
Salah satu pesan utama yang disoroti adalah perubahan lanskap pendidikan. Menurut Gul, gelar atau pengalaman belajar di Amerika Serikat tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk terjun ke ekonomi berbasis teknologi tinggi. Universitas di berbagai negara kini mampu menyediakan pendidikan sains dan teknologi dengan kualitas setara, bahkan dalam beberapa kasus melampaui institusi ternama di AS.
Ia mencontohkan penelitian kecerdasan buatan yang paling banyak dikutip secara global, yang ditulis oleh empat peneliti Microsoft berbasis di Beijing. Keempatnya tidak pernah menempuh pendidikan maupun bekerja di luar China, namun mampu menghasilkan riset berpengaruh dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembatasan mahasiswa asing ke AS tidak lagi berdampak besar seperti yang diperkirakan, karena talenta unggul memiliki banyak pilihan alternatif.
Gul juga menekankan bahwa inovasi kini muncul dari berbagai lokasi yang sebelumnya tidak dianggap sebagai pusat teknologi. Komunitas riset dan wirausaha aktif berkembang di negara-negara Nordik, Eropa Barat, hingga Asia Tenggara. Di Finlandia, misalnya, sistem sosial yang kuat dinilai berkontribusi besar terhadap kesuksesan industri teknologi, termasuk sektor gim. Sementara itu, kawasan seperti King’s Cross di London berkembang menjadi magnet baru bagi pengusaha teknologi global.
Aspek penting lainnya adalah peran negara yang sangat bervariasi dalam mendukung inovasi. Tidak ada satu formula tunggal yang berlaku untuk semua. Singapura, misalnya, menawarkan hibah, insentif pajak, serta peluang kepemilikan saham bagi startup, menjadikannya salah satu negara paling agresif dalam mendukung wirausaha teknologi. Korea Selatan mengandalkan pinjaman berbunga rendah dan kemudahan masuk pasar modal, sementara Kanada fokus pada pendanaan riset dan kebijakan imigrasi bagi talenta berpendidikan tinggi.
Menurut Gul, penyebaran pengetahuan, infrastruktur, dan sumber daya manusia kini jauh lebih merata dibandingkan satu dekade lalu. China bahkan disebut sebagai negara yang paling menonjol dalam menciptakan ekosistem startup berskala besar, dengan ribuan perusahaan asing mendirikan pusat riset di sana.
Namun, ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan China, mulai mengubah arah investasi global. Modal ventura yang sebelumnya aktif mengalir lintas negara kini lebih berhati-hati, sementara Eropa juga semakin selektif terhadap investasi dari China. Kondisi ini memaksa setiap negara meninjau ulang strategi inovasinya.
Gul menilai Amerika Serikat unggul dalam mengubah ide menjadi bisnis, tetapi kurang optimal dalam memperluas dan mengonsolidasikan perusahaan menengah. Jerman kuat di sektor manufaktur spesialis namun lemah dalam skala global, sementara Korea Selatan masih didominasi konglomerasi besar. Singapura memiliki banyak startup regional, tetapi belum melahirkan pemain teknologi global berskala raksasa.
Dalam konteks tersebut, China dinilai paling berhasil menciptakan lingkungan yang memungkinkan startup tumbuh cepat dan masif. Gul menyebut negara itu sebagai pesaing utama dalam lanskap inovasi dunia saat ini.
Ia menutup dengan pandangan bahwa pusat inovasi modern kini berada pada fase pertumbuhan startup, bukan lagi semata di universitas atau lembaga riset pemerintah. Karena itu, pemerintah di berbagai negara perlu fokus pada kebijakan yang memungkinkan perusahaan rintisan berkembang cepat dan berkelanjutan di pasar global.






