Honor kembali menjadi bahan perbincangan di pasar internasional setelah kemunculan Honor Power2 yang disebut membawa bahasa desain mirip ponsel kelas atas Apple. Di dalam negeri, model ini dipromosikan sebagai perangkat dengan baterai besar dan konfigurasi yang kompetitif di kelas harga menengah. Namun, respons di luar China tidak selalu sehangat itu karena perhatian publik lebih dulu tertuju pada tampilan fisik, terutama modul kamera belakang.
Sorotan makin ramai ketika sejumlah pengamat teknologi menilai elemen “kamera tambahan” di bagian belakang terlihat lebih bersifat dekoratif dibanding fungsional. Kritiknya sederhana: desain seperti itu dianggap lebih mengejar kesan premium ala iPhone ketimbang menonjolkan identitas merek sendiri. Komentar tersebut kemudian memicu diskusi lanjutan tentang tren pabrikan China yang dinilai sering memakai “jalan pintas” lewat kemiripan visual dengan produk populer.
Sejumlah media teknologi juga menyinggung bahwa polemik desain bukan hal baru bagi Honor. Sepanjang 2025, beberapa modelnya sempat dibandingkan dengan iPhone dari generasi yang berbeda, mulai dari susunan lensa, bentuk bingkai, hingga gaya antarmuka. Honor sendiri cenderung tidak membantah secara frontal, dan memilih alasan bahwa desain yang sudah matang secara industri sering kali terlihat serupa karena mengikuti kebutuhan ergonomi, komposisi komponen, dan selera pasar.
Di sisi lain, perdebatan soal “meniru” tidak selalu menjadi vonis akhir untuk sebuah produk. Dalam ekosistem smartphone, keputusan pembeli umumnya tetap ditentukan oleh pengalaman nyata: performa harian, ketahanan baterai, kualitas layar, stabilitas kamera, dan tentu harga. Di kelas menengah, sebagian pengguna cenderung lebih pragmatis, selama perangkat terasa cepat, awet, dan tidak merepotkan untuk pemakaian harian.
Kondisi ini juga menunjukkan dilema yang sering dihadapi merek yang ingin ekspansi global: mereka perlu desain yang mudah diterima, tetapi juga butuh ciri khas yang jelas. Ketika identitas visual dianggap terlalu dekat dengan kompetitor, citra merek bisa ikut terbawa ke narasi negatif, sekalipun spesifikasinya menarik. Pada akhirnya, tantangan Honor bukan sekadar menjual Power2, melainkan meyakinkan pasar internasional bahwa mereka punya gaya dan arah produk yang konsisten.
Jika Honor mampu membuktikan keunggulan yang benar-benar terasa, kontroversi desain bisa mereda seiring waktu. Namun bila yang menonjol hanya kemiripan tampilan, kritik bisa terus berulang di rilis berikutnya dan mempengaruhi persepsi publik global terhadap brand.






