Ruang rapat besar sering jadi “panglima perang” keputusan perusahaan, tapi ironisnya justru paling sering bermasalah saat rapat hybrid: suara putus, gema, noise AC, sampai peserta yang terdengar seperti bicara dari dalam akuarium. Di era rapat berbasis AI—yang mengandalkan transkrip, atribusi pembicara, dan ringkasan otomatis—audio yang tidak konsisten bukan lagi gangguan kecil, melainkan sumber data buruk.
Menjawab kebutuhan itu, Sennheiser dan Pleneo menghadirkan dua paket solusi ruang rapat yang dibuat untuk penerapan enterprise: Pleneo Medium Room Kit dan Pleneo Large Room Kit. Targetnya jelas: menyederhanakan instalasi, menekan biaya implementasi, dan membuat pengalaman rapat lebih seragam untuk ruang menengah hingga besar.
Perbedaan utama kedua kit ada pada cakupan area. Medium Room Kit dirancang untuk ruang hingga 50 m² (kurang lebih 10 x 5 meter). Sementara Large Room Kit disiapkan untuk ruang yang lebih luas sampai 90 m² (sekitar 12 x 7,5 meter). Dengan batasan yang jelas ini, perusahaan bisa menstandarkan desain ruang rapat tanpa menebak-nebak kebutuhan perangkat.
Di sisi audio, paket ini mengandalkan mikrofon plafon Sennheiser TeamConnect Ceiling Medium (TCC M). Mikrofon ini memanfaatkan automatic dynamic beamforming agar suara bisa tertangkap dari berbagai arah, termasuk ketika peserta berpindah tempat, berbicara dari sudut ruangan, atau presentasi bergantian.
Jantung sistemnya adalah Pleneo RoomHub yang terhubung ke Pleneo Room OS. Perangkat ini berperan sebagai pengendali pusat yang menyatukan audio, video, dan pengelolaan endpoint dalam satu ekosistem. Pendekatan ini mengurangi kebutuhan “tuning manual” yang biasanya memakan waktu, apalagi untuk ruang besar yang akustiknya sering berubah karena jumlah orang dan aktivitas di dalam ruangan.
RoomHub juga membawa fitur peningkatan audio berbasis AI, termasuk penyesuaian akustik otomatis, AI NoiseSense untuk meredam kebisingan latar, serta IQ Voice Enhancement yang memakai machine learning untuk menjaga kejernihan suara. Tujuannya bukan sekadar nyaman didengar manusia, tetapi juga memastikan input suara berkualitas untuk alur kerja rapat cerdas.
Dari sisi visual, kit ini memasangkan kamera Pleneo RoomVision yang punya AI speaker tracking dan AI auto-framing. Kamera akan mengikuti pembicara aktif dan menjaga komposisi gambar agar peserta tetap berada dalam bingkai secara natural, tanpa gerakan yang mengganggu fokus.
Pengelolaan ruang dilakukan lewat Pleneo Cloud. Tim IT bisa mengaktifkan, mengonfigurasi, serta memantau banyak ruang rapat dari satu dashboard, bahkan mengaitkan alert dan data ke sistem ITSM yang sudah digunakan perusahaan. Dengan cara ini, operasional tetap ringan meski jumlah ruang rapat bertambah.
Pihak Pleneo menekankan bahwa paket ini dirancang agar ruang rapat besar bisa disediakan dalam skala luas tanpa konfigurasi repetitif. Dari sisi Sennheiser, pesan utamanya sederhana: kalau AI rapat itu “otak”, maka audio yang andal adalah “asupan gizinya”. Tanpa itu, rapat mungkin tetap berjalan, tapi hasilnya jauh dari cerdas.
Room kit hasil kolaborasi ini dipasarkan melalui jaringan distributor resmi di berbagai wilayah, termasuk Amerika, Eropa, Timur Tengah, India, dan Asia-Pasifik. Ini membuka peluang implementasi di sektor korporasi maupun pendidikan yang membutuhkan standar rapat modern dengan kualitas yang konsisten.






