Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan lonjakan kecepatan internet seluler nasional. Sasaran awalnya adalah rata-rata 60 Mbps pada 2026, lalu meningkat lagi hingga 100 Mbps pada 2029.
Target tersebut bukan sekadar angka. Kecepatan yang lebih tinggi dibutuhkan untuk layanan digital yang makin berat, mulai dari video, gim, pendidikan daring, hingga aplikasi produktivitas berbasis cloud yang dipakai jutaan orang setiap hari.
Pelaku industri menilai kunci utama ada pada spektrum frekuensi. Tanpa tambahan spektrum, operator akan sulit memperluas kapasitas, terutama di kota besar yang kepadatannya terus bertambah dan membuat jaringan cepat penuh.
Salah satu hambatan yang paling sering disebut adalah spektrum 3,5 GHz. Di banyak negara tetangga, pita ini menjadi tulang punggung 5G, sementara di Indonesia penggunaannya masih menghadapi tantangan karena pemanfaatan yang sudah ada.
Di tengah kondisi itu, konsolidasi operator dipandang sebagai jalan cepat. Penggabungan jaringan dan spektrum membuat kapasitas lebih lapang, karena pita yang sebelumnya terpecah bisa disatukan. Dampaknya, pengalaman pengguna membaik bahkan sebelum perluasan 5G dilakukan secara masif.
Industri juga menunggu langkah pemerintah dalam menyiapkan “amunisi” baru untuk 5G. Salah satu rencana yang mengemuka adalah pelelangan spektrum 2,6 GHz khusus untuk pengembangan 5G. Jika dikombinasikan dengan spektrum yang sudah dimiliki operator, ruang kapasitas bisa bertambah signifikan.
Logikanya sederhana: speed mengikuti spektrum. 5G lebih efisien dalam memanfaatkan pita frekuensi, sehingga ketika spektrum cukup lebar, kecepatan dan stabilitas jaringan ikut naik, terutama untuk trafik padat pada jam sibuk.
Namun, percepatan tidak hanya urusan lelang. Operator masih harus membangun jaringan, menambah BTS, memperkuat backhaul, dan memastikan perangkat pengguna kompatibel. Tanpa investasi ini, spektrum baru tidak akan terasa di pengalaman harian.
Jika seluruh elemen bergerak serempak, target Komdigi kejar internet 60 Mbps bukan hal mustahil. Tantangan terbesarnya adalah mengatur spektrum secara adil, menjaga kompetisi, dan memastikan 5G hadir bukan hanya di pusat kota, tetapi juga merata ke wilayah yang selama ini tertinggal.






