Perang Promo Aplikasi AI Cina Memanas, Hadiah Besar Buru Pengguna Baru

Avatar photo

- Penulis Berita

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AI

AI

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, panggung teknologi di Tiongkok berubah menjadi arena promosi yang sangat agresif. Alih-alih sekadar iklan biasa, para raksasa digital memilih cara yang lebih “keras”: membanjiri publik dengan hadiah, kupon, dan amplop merah digital untuk menarik pengguna aplikasi kecerdasan buatan.

Gelombang kampanye ini terlihat dari langkah perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, Baidu, hingga ByteDance—induk TikTok—yang sama-sama mengejar satu target: membuat aplikasi AI mereka dipakai sebanyak mungkin dalam waktu singkat.

Di antara semua pemain, ByteDance mencoba mencuri perhatian lewat chatbot Doubao. Mereka menyiapkan amplop merah digital yang nilainya bisa mencapai ratusan yuan, lalu menambahnya dengan undian perangkat teknologi dalam jumlah besar agar percakapan soal Doubao ramai di media sosial.

Hadiah yang ditawarkan pun tidak main-main. Selain gawai dan perangkat rumah pintar, kampanye juga memasukkan produk premium seperti drone, robot, sampai kesempatan mencoba mobil listrik tertentu dalam periode terbatas. Tujuannya jelas: memberi sensasi “festival” agar pengguna terpancing mencoba aplikasi.

Namun, pesta hadiah ini bukan sekadar tradisi musiman. Perusahaan-perusahaan tersebut sedang berebut porsi pasar aplikasi AI konsumen, yang pertumbuhannya sangat cepat tetapi model bisnisnya belum selalu matang.

Strategi yang dipakai berbeda-beda. Tencent mengandalkan kekuatan jejaring sosialnya untuk adopsi yang menyebar cepat, Alibaba menempelkan AI pada ekosistem belanja dan layanan digital, sementara ByteDance menonjolkan pengalaman yang terasa premium dan modern.

Masalahnya, membeli pengguna dengan promosi mahal tidak otomatis membuat orang bertahan setelah momen Imlek selesai. Tantangan berikutnya adalah retensi: apakah aplikasi akan tetap dipakai ketika hadiah dan amplop merah sudah berhenti dibagikan.

Di sisi lain, biaya promosi yang menggunung membuat pertanyaan tentang profitabilitas makin keras. Tanpa skema monetisasi yang stabil—misalnya langganan atau iklan yang terukur—kampanye besar bisa berubah menjadi beban yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Faktor regulasi juga ikut membayangi. Otoritas di Tiongkok dikenal memberi ruang bagi inovasi, tetapi tetap mengawasi persaingan yang berpotensi berlebihan. Karena itu, perang promo aplikasi AI Cina ini bukan hanya soal kreativitas pemasaran, melainkan juga ujian ketahanan strategi bisnis di bawah pengawasan ketat.

Berita Terkait

Samsung Segera Luncurkan Kacamata Pintar Berbasis Kecerdasan Buatan Namun Khawatir Akan Krisis Memori Global
Panduan Lengkap Cara Menghilangkan Virus Dan Iklan Pop Up Berbahaya Pada Perangkat MacBook Secara Mandiri
Grand Theft Auto VI, Bocoran Harga Terbaru dan Tanggal Rilis
Andy Yen Peringatkan Anonimitas Internet Terancam Aturan Verifikasi Usia
Samsung Galaxy Glasses Bocor, Kacamata Pintar Siap Menantang Meta
OpenAI Kaji Chip Mobile ChatGPT Bersama Qualcomm dan MediaTek
Apple Pertimbangkan Menghapus MagSafe dari iPhone Generasi Baru
Jannik Sinner Alami Gangguan Fisik di Madrid Open 2026

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:38 WIB

Panduan Lengkap Cara Menghilangkan Virus Dan Iklan Pop Up Berbahaya Pada Perangkat MacBook Secara Mandiri

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:28 WIB

Grand Theft Auto VI, Bocoran Harga Terbaru dan Tanggal Rilis

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:07 WIB

Andy Yen Peringatkan Anonimitas Internet Terancam Aturan Verifikasi Usia

Jumat, 1 Mei 2026 - 09:06 WIB

Samsung Galaxy Glasses Bocor, Kacamata Pintar Siap Menantang Meta

Kamis, 30 April 2026 - 14:55 WIB

OpenAI Kaji Chip Mobile ChatGPT Bersama Qualcomm dan MediaTek

Berita Terbaru

Sinopsis Film Netflix GTA

Berita

Sinopsis Film Netflix GTA San Andreas, 5 Fakta Menarik

Senin, 4 Mei 2026 - 19:43 WIB