Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, panggung teknologi di Tiongkok berubah menjadi arena promosi yang sangat agresif. Alih-alih sekadar iklan biasa, para raksasa digital memilih cara yang lebih “keras”: membanjiri publik dengan hadiah, kupon, dan amplop merah digital untuk menarik pengguna aplikasi kecerdasan buatan.
Gelombang kampanye ini terlihat dari langkah perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, Baidu, hingga ByteDance—induk TikTok—yang sama-sama mengejar satu target: membuat aplikasi AI mereka dipakai sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
Di antara semua pemain, ByteDance mencoba mencuri perhatian lewat chatbot Doubao. Mereka menyiapkan amplop merah digital yang nilainya bisa mencapai ratusan yuan, lalu menambahnya dengan undian perangkat teknologi dalam jumlah besar agar percakapan soal Doubao ramai di media sosial.
Hadiah yang ditawarkan pun tidak main-main. Selain gawai dan perangkat rumah pintar, kampanye juga memasukkan produk premium seperti drone, robot, sampai kesempatan mencoba mobil listrik tertentu dalam periode terbatas. Tujuannya jelas: memberi sensasi “festival” agar pengguna terpancing mencoba aplikasi.
Namun, pesta hadiah ini bukan sekadar tradisi musiman. Perusahaan-perusahaan tersebut sedang berebut porsi pasar aplikasi AI konsumen, yang pertumbuhannya sangat cepat tetapi model bisnisnya belum selalu matang.
Strategi yang dipakai berbeda-beda. Tencent mengandalkan kekuatan jejaring sosialnya untuk adopsi yang menyebar cepat, Alibaba menempelkan AI pada ekosistem belanja dan layanan digital, sementara ByteDance menonjolkan pengalaman yang terasa premium dan modern.
Masalahnya, membeli pengguna dengan promosi mahal tidak otomatis membuat orang bertahan setelah momen Imlek selesai. Tantangan berikutnya adalah retensi: apakah aplikasi akan tetap dipakai ketika hadiah dan amplop merah sudah berhenti dibagikan.
Di sisi lain, biaya promosi yang menggunung membuat pertanyaan tentang profitabilitas makin keras. Tanpa skema monetisasi yang stabil—misalnya langganan atau iklan yang terukur—kampanye besar bisa berubah menjadi beban yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Faktor regulasi juga ikut membayangi. Otoritas di Tiongkok dikenal memberi ruang bagi inovasi, tetapi tetap mengawasi persaingan yang berpotensi berlebihan. Karena itu, perang promo aplikasi AI Cina ini bukan hanya soal kreativitas pemasaran, melainkan juga ujian ketahanan strategi bisnis di bawah pengawasan ketat.






