Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat atau Diskominfo Jabar mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap ancaman malvertising, yaitu teknik kejahatan siber yang memanfaatkan iklan digital sebagai sarana penyebaran malware.
Peringatan ini disampaikan Diskominfo Jabar melalui unggahan di akun Instagram resminya pada Senin, 2 Februari 2026. Dalam keterangannya, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai iklan online yang terlihat menarik atau muncul di situs yang tampak kredibel, karena iklan tersebut bisa berasal dari jaringan pihak ketiga yang rentan disusupi konten berbahaya.
Diskominfo Jabar menegaskan bahwa iklan digital tidak selalu aman. Di balik tampilan promosi yang meyakinkan, dapat tersembunyi kode berbahaya yang berpotensi membahayakan perangkat pengguna. Malvertising bekerja dengan cara menyisipkan malware ke dalam iklan, sehingga saat iklan dimuat atau bahkan hanya ditampilkan di layar, perangkat sudah berisiko terinfeksi tanpa disadari.
Ancaman ini dinilai berbahaya karena tidak selalu membutuhkan interaksi langsung dari pengguna. Dalam beberapa kasus, malware dapat berjalan otomatis ketika halaman web terbuka. Selain itu, iklan berbahaya sering kali sulit dibedakan dari iklan resmi, sehingga banyak pengguna yang terkecoh dan menganggapnya aman.
Diskominfo Jabar juga menjelaskan bahwa malvertising kerap memanfaatkan celah keamanan pada peramban atau sistem operasi perangkat. Kondisi ini membuat pengguna dengan perangkat yang jarang diperbarui menjadi target empuk serangan siber.
Beberapa bentuk malvertising yang sering ditemui antara lain iklan palsu bertuliskan “Download Software Gratis”, banner “Update Browser Sekarang” yang tidak berasal dari sumber resmi, pop-up yang secara otomatis mengarahkan pengguna ke situs mencurigakan, hingga iklan aplikasi atau gim yang menyimpan skrip tersembunyi.
Melalui peringatan ini, Diskominfo Jabar mengajak masyarakat untuk lebih waspada, selektif dalam mengklik iklan digital, serta rutin memperbarui sistem dan aplikasi guna meminimalkan risiko serangan siber yang berasal dari iklan berbahaya.






