Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta negara-negara NATO dan China ikut berperan dalam membuka kembali kelancaran pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Menurut Trump, banyak negara jauh lebih bergantung pada minyak dari kawasan Teluk dibandingkan Amerika Serikat, sehingga tanggung jawab menjaga jalur itu seharusnya tidak dibebankan kepada Washington semata.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara pada 15 Maret, saat situasi di Selat Hormuz masih tegang setelah Iran membatasi lalu lintas kapal sejak pecahnya konflik pada 28 Februari. Penutupan jalur pelayaran itu memicu lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia.
Trump menilai Eropa harus mengambil peran aktif, sebagaimana Amerika Serikat selama ini mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia. Ia bahkan mengaitkan respons negara-negara Eropa terhadap krisis Selat Hormuz dengan masa depan NATO, seraya menegaskan bahwa sikap pasif atau respons negatif akan menjadi pertanda buruk bagi aliansi militer tersebut.
Selain NATO, Trump juga berharap China ikut bergerak cepat. Ia beralasan sekitar 90 persen pasokan minyak China berasal dari jalur itu, sehingga Beijing dinilai memiliki kepentingan besar untuk memastikan pelayaran kembali normal. Trump bahkan menyebut isu Selat Hormuz bisa memengaruhi jadwal kunjungannya ke China pada akhir bulan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
Ketika ditanya bantuan seperti apa yang ia inginkan, Trump menyebut kapal penyapu ranjau dan kekuatan laut tambahan untuk mengatasi ancaman di sekitar pantai Iran. Menurutnya, negara-negara Eropa memiliki lebih banyak kapasitas di bidang tersebut ketimbang Amerika Serikat dalam situasi sekarang. Ia juga menekankan perlunya koalisi internasional untuk mengawal kapal tanker dan kapal kargo yang melintas di kawasan tersebut.
Beberapa laporan media AS menyebut Trump sedang menyiapkan pengumuman pembentukan koalisi internasional untuk menjaga lalu lintas di Selat Hormuz. Namun hingga kini belum jelas negara mana saja yang akan terlibat secara aktif, termasuk apakah kapal perang dari negara-negara yang disebut Trump akan benar-benar bergabung dalam operasi pengawalan.
Di sisi lain, Iran menolak klaim bahwa mereka sedang menginginkan gencatan senjata. Teheran juga membantah tak punya alasan untuk berdialog langsung dengan Amerika Serikat, walau Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi membuka ruang pembicaraan dengan negara-negara yang ingin membahas keamanan pelayaran tanker di Selat Hormuz.
Dengan harga minyak dunia terus menanjak dan jalur energi global masih belum sepenuhnya aman, seruan Trump mencerminkan tekanan yang makin besar terhadap banyak negara untuk ikut menanggung beban pengamanan kawasan. Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa; ketika ia tersendat, dunia ikut berdebar.






