Dongeng Suriname di jalur menuju Piala Dunia 2026 akhirnya berhenti dengan cara yang menyakitkan. Tim yang datang sebagai underdog itu harus mengubur mimpi setelah kalah 1-2 dari Bolivia pada semifinal play-off antarbenua yang digelar di Meksiko, Jumat pagi, 27 Maret. Mereka sempat sangat dekat dengan kejutan besar, tetapi pengalaman lawan berbicara pada momen-momen akhir.
Sejak awal laga, Suriname memang bukan tim yang dijagokan. Posisi mereka di ranking dunia berada jauh di bawah Bolivia, dan banyak yang memprediksi pertandingan akan menjadi milik wakil Amerika Selatan. Namun yang terjadi di lapangan justru berbeda. Bolivia mendominasi penguasaan bola hingga 68 persen pada babak pertama, tetapi Suriname mampu bertahan dengan disiplin dan menahan tekanan tanpa kebobolan.
Masuk babak kedua, kejutan yang ditunggu pendukung Suriname benar-benar datang. Pada menit ke-48, Liam van Genderen memanfaatkan kemelut di depan gawang untuk mencetak gol pembuka. Tiba-tiba, tim yang sebelumnya hanya dipandang sebagai pelengkap playoff berubah menjadi kandidat kejutan besar. Jika mampu mempertahankan keunggulan, Suriname akan menorehkan langkah bersejarah sebagai salah satu kisah paling tak terduga dalam kualifikasi.
Sayangnya, keunggulan itu tidak bertahan sampai akhir. Bolivia yang terus menekan akhirnya menemukan celah pada menit ke-72. Pemain muda Paniagua, yang baru berusia 18 tahun, menunjukkan kualitas individu saat melewati kepadatan pertahanan dan melepaskan penyelesaian yang membawa skor kembali imbang. Gol tersebut mengubah arah pertandingan sekaligus memukul mental Suriname yang sebelumnya bertahan cukup rapi.
Tekanan Bolivia semakin besar setelah gol penyama. Hanya tujuh menit berselang, mereka kembali menyerang dan menciptakan situasi kacau di kotak penalti Suriname. Juan Sinforiano Godoy dilanggar, dan wasit Alireza Faghani tanpa ragu menunjuk titik putih. Pada eksekusi penalti, Terceros tampil tenang untuk menaklukkan kiper dan membalikkan keadaan menjadi 2-1 bagi Bolivia.
Skor tersebut bertahan hingga peluit akhir. Bagi Suriname, hasil ini terasa pahit karena mereka sudah begitu dekat dengan final. Mereka datang sebagai tim peringkat 126 dunia dan sempat bermimpi menjadi salah satu tim berperingkat terendah yang berhasil lolos ke Piala Dunia. Meski gagal, penampilan mereka di laga ini tetap memberi kesan bahwa mereka bukan sekadar penumpang numpang lewat di panggung playoff.
Untuk Bolivia, kemenangan ini membuka jalan ke final play-off antarbenua menghadapi Irak pada 31 Maret di Stadion BBVA, Meksiko. Laga itu akan menjadi duel penentu menuju tiket terakhir ke Grup I Piala Dunia 2026, yang sudah dihuni tim-tim berat seperti Prancis, Norwegia, dan Senegal. Jadi, tantangan sesungguhnya bagi Bolivia belum selesai. Mereka baru lolos dari satu jurang, tapi masih harus melompati jurang berikutnya.
Kekalahan Suriname menutup perjalanan yang singkat tetapi membekas. Mereka gagal mencapai tujuan akhir, namun berhasil menunjukkan keberanian dan daya saing yang membuat banyak orang menoleh. Dalam sepak bola, tidak semua dongeng berakhir bahagia. Ada yang selesai sebelum bab terakhir, tetapi tetap layak dikenang karena sempat membuat penonton percaya bahwa keajaiban memang mungkin terjadi.






