Sebuah foto terbaru memperlihatkan kerusakan berat pada radar Giraffe 1X yang berada di lingkungan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, Irak, setelah fasilitas tersebut diduga diserang pada 14 Maret. Perangkat radar yang berfungsi mendeteksi target udara kecil seperti drone itu tampak hangus, sementara kubah pelindung di sekitarnya juga mengalami kerusakan.
Gambar yang diambil Associated Press menunjukkan dua staf kedutaan sedang memeriksa area terdampak. Di dekat mereka tampak unit radar berwarna hitam terbakar. Sejumlah analis sumber terbuka menyebut perangkat yang rusak itu merupakan Giraffe 1X, radar taktis buatan Saab asal Swedia yang memang dirancang untuk mendeteksi objek terbang rendah dan lambat, termasuk pesawat tanpa awak.
Sebelumnya, dua pejabat keamanan Irak yang identitasnya dirahasiakan mengatakan sebuah proyektil menghantam area heliport di kompleks Kedutaan AS di Baghdad. Rekaman visual dari lokasi juga memperlihatkan kobaran api dan asap hitam yang membumbung setelah insiden tersebut. Sumber keamanan lain menyebut serangan itu merusak sebagian sistem pertahanan udara yang ditempatkan di area kedutaan.
Hingga kini belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat pun belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai kerusakan radar maupun detail serangan yang terjadi di kompleks diplomatiknya itu.
Giraffe 1X dikenal sebagai radar AESA multifungsi yang ringan dan sangat mobile. Sistem ini dapat dipasang di kendaraan kecil, dipindahkan dengan cepat, dan lazim dipakai untuk kebutuhan pemantauan taktis. Fungsi utamanya adalah mengenali ancaman kecil di udara serta memantau aktivitas permukaan, lalu meneruskan data ke sistem pertahanan udara jarak dekat untuk proses intersepsi.
Dalam spesifikasi operasionalnya, radar ini memiliki jangkauan sekitar 75 hingga 100 kilometer, tergantung jenis target yang dipantau. Pada Oktober tahun lalu, Saab mengumumkan telah menerima kontrak dari Angkatan Darat AS senilai sekitar 46 juta dolar AS untuk pengadaan radar Giraffe 1X, dengan jadwal pengiriman dimulai tahun ini.
Serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Irak terjadi di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran ikut meningkatkan ancaman terhadap berbagai fasilitas strategis di wilayah tersebut, termasuk pangkalan militer dan kantor diplomatik. Kedutaan AS di Baghdad sendiri selama ini berulang kali menjadi sasaran kelompok bersenjata yang disebut pro-Iran.
Rusaknya radar antidrone di kawasan kedutaan menambah sorotan terhadap kerentanan infrastruktur pertahanan di tengah eskalasi konflik. Insiden ini juga menunjukkan bahwa ancaman drone masih menjadi tantangan serius, bahkan bagi salah satu fasilitas diplomatik terbesar milik Amerika Serikat di dunia.






