Media pemerintah Iran menegaskan bahwa Mansoureh Khojasteeh Bagherzadeh, istri almarhum Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, masih hidup. Pernyataan itu sekaligus membantah laporan awal yang sempat menyebut ia meninggal akibat luka berat setelah serangan udara Amerika Serikat pada 28 Februari lalu.
Dua media yang menegaskan kabar tersebut adalah Fars News dan Nournews. Keduanya menyampaikan bahwa informasi awal mengenai wafatnya Mansoureh tidak benar. Nournews bahkan menyebut secara tegas bahwa “imam para martir masih hidup”, meski tidak memberikan rincian lebih jauh mengenai kondisi kesehatannya saat ini.
Sebelumnya, sejumlah laporan dari media Iran sempat menyebut Bagherzadeh menjadi salah satu korban yang terluka parah dalam serangan yang menewaskan sejumlah anggota keluarga Ali Khamenei. Kabar itu langsung menyebar luas dan memicu spekulasi baru tentang dampak serangan terhadap lingkaran keluarga kepemimpinan tertinggi Iran.
Klarifikasi ini muncul pada hari yang sama ketika Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pidato pertamanya usai menjabat. Dalam pidato tersebut, Mojtaba mengatakan bahwa ia melihat langsung jasad ayahnya setelah serangan udara dan menyebut beberapa anggota keluarga tewas, termasuk istri, saudara perempuan, saudara ipar, dan cucu perempuan ayahnya. Namun ia tidak menyebut ibunya secara spesifik.
Mansoureh Khojasteeh Bagherzadeh diketahui menikah dengan Ali Khamenei sejak 1964. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dari sorotan publik dan jarang menampilkan posisi politik secara terbuka. Karena itu, kabar mengenai dirinya selalu memunculkan perhatian besar, apalagi di tengah situasi yang sedang sangat tegang di Iran.
Mojtaba Khamenei sendiri terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret 2026 di tengah konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979. Dalam pidatonya, Mojtaba memberi sinyal bahwa Iran akan tetap mengambil garis keras dan tidak menyerah pada tekanan musuh.
Konflik yang sudah berlangsung selama sekitar dua pekan itu disebut telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar di wilayah Iran. Situasi tersebut juga memicu dampak ekonomi yang luas, termasuk terganggunya jalur energi global setelah Selat Hormuz diblokir Iran. Dunia pun ikut menahan napas, karena kalau jalur minyak tersendat, efeknya bisa terasa sampai ke pom bensin yang jauh dari Teheran.
Dengan adanya klarifikasi dari media pemerintah, kabar tentang kondisi Mansoureh kini menjadi lebih terang, meski detail medisnya masih belum dibuka. Yang jelas, peristiwa ini menunjukkan betapa deras dan simpang siurnya arus informasi saat konflik besar berlangsung, terutama ketika menyangkut tokoh-tokoh yang berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan Iran.






