Penuaan Cepat Buka Jalan Kolaborasi Ekonomi Perak China Korea

Avatar photo

- Penulis Berita

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung (kiri) dan Presiden China Xi Jinping di Aula Rakyat di Beijing pada 5 Januari. Foto: AFP

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung (kiri) dan Presiden China Xi Jinping di Aula Rakyat di Beijing pada 5 Januari. Foto: AFP

China dan Korea Selatan kerap berhadapan dalam persaingan bisnis global, mulai dari teknologi hingga manufaktur. Namun di balik kompetisi itu, ada satu tantangan besar yang justru mendorong ruang kerja sama baru: populasi yang menua dengan kecepatan yang sama-sama mengkhawatirkan.

Laporan yang dikutip South China Morning Post menyebut isu penuaan penduduk beberapa bulan terakhir sering muncul dalam agenda pembicaraan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Keduanya dipandang ingin mengurangi guncangan ekonomi yang dipicu rendahnya angka kelahiran dan perubahan struktur demografi.

Pada November 2025, di sela KTT APEC di Korea Selatan, kedua negara meneken kesepakatan terkait “ekonomi perak” (silver economy). Istilah ini merujuk pada sektor-sektor yang melayani kebutuhan warga lanjut usia, mulai dari layanan kesehatan, perawatan jangka panjang, asuransi, teknologi pendukung, hingga rekreasi dan gaya hidup.

Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada Januari, Presiden Lee disebut kembali menekankan bahwa ekonomi perak bisa menjadi “peluang tak terbatas” untuk kerja sama, meski hubungan kedua negara tetap diwarnai kompetisi pada bidang lain. Sejumlah analis menilai, inilah salah satu area yang relatif kurang sensitif secara geopolitik.

Xu Tianchen dari Economist Intelligence Unit menilai ada dua alasan mengapa ekonomi perak menjanjikan. Pertama, isu ini tidak terlalu “rawan” dibanding sektor strategis lain. Kedua, pasar layanan lansia di kedua negara sama-sama tumbuh cepat, sehingga kolaborasi dapat bersifat saling menguntungkan.

Di Korea Selatan, tantangan demografi sudah masuk tahap ekstrem. Negara itu termasuk yang memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia dan telah berstatus “super-aged society”. Pada 2025, lebih dari 21% penduduk—sekitar 10,84 juta orang—berusia 65 tahun ke atas.

China belum sedalam Korea dalam komposisi lansia, tetapi laju penurunan kelahirannya disebut lebih tajam. Populasi China menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, sementara jumlah bayi turun ke titik terendah sejak 1949. Proyeksi menyebut pada 2035 China bisa memiliki lebih dari 400 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas.

Choi Seong-jin dari Hanyang University Business School menilai Korea punya pengalaman lebih awal dalam merespons penuaan yang cepat. Keunggulan Korea berada pada pengelolaan layanan, desain kelembagaan, serta teknologi medis digital. Artinya, Korea memiliki model dan “best practice” yang bisa diadaptasi.

Sebaliknya, China dinilai unggul dalam kapasitas produksi, ketersediaan modal, dan skala pasar. Gary Ng dari Natixis menekankan tantangan China bukan soal membangun pabrik atau menggelontorkan dana, melainkan mencari solusi terobosan untuk perawatan lansia, asuransi, dan perangkat medis canggih. Di titik inilah peluang pertukaran keahlian bisa terbuka.

Prospek pasarnya juga raksasa. Sebuah laporan dari lembaga riset penuaan di Universitas Fudan memproyeksikan ekonomi perak China dapat mencapai 19.000 triliun yuan pada 2035—sekitar 13,6% dari PDB China tahun 2025. China sendiri pada 2024 sudah menerbitkan dokumen strategis pertama tentang pengembangan ekonomi perak, termasuk dorongan pemakaian teknologi baru dalam sistem perawatan lansia.

Robot perawatan lansia menjadi salah satu area yang sering disebut: perangkat yang bisa mengantar makanan, membantu aktivitas harian, hingga menjadi teman berbicara. Para pengamat membayangkan kombinasi perangkat keras dan sensor presisi dari Korea dengan data pelatihan AI dan skala produksi China bisa melahirkan produk yang kompetitif.

Meski begitu, ada catatan penting. Sejumlah analis mengingatkan kerja sama teknologi bisa cepat berubah menjadi isu sensitif, terutama jika menyentuh “teknologi strategis” atau data pribadi. Kekhawatiran keamanan data juga disebut dapat menjadi tantangan bagi perusahaan Korea yang beroperasi di China. Karena itu, manfaat awal kemungkinan lebih cepat muncul pada sektor layanan dan pelatihan SDM, serta pariwisata lansia yang hambatan politiknya relatif rendah.

Berita Terkait

Jannik Sinner Alami Gangguan Fisik di Madrid Open 2026
Bruce Willis Menghadapi Pemburu Mematikan di Film Apex 2021
Aturan Modal Swiss, Ketua UBS Peringatkan Pilihan Sulit bagi Ekonomi
Penjualan EV Meroket, New South Wales Tambah Stasiun Pengisian Daya
Saham Swiss, Pilihan Investasi Menarik di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Usulan 15 Poin AS ke Iran Buka Peluang Diplomasi Baru
Perang Iran Berkepanjangan Bisa Guncang Energi dan Ekonomi Dunia
Jerman Dukung Sanksi Uni Eropa terhadap Pemukim Israel di Tepi Barat

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 21:49 WIB

Jannik Sinner Alami Gangguan Fisik di Madrid Open 2026

Rabu, 29 April 2026 - 20:22 WIB

Bruce Willis Menghadapi Pemburu Mematikan di Film Apex 2021

Rabu, 15 April 2026 - 21:06 WIB

Aturan Modal Swiss, Ketua UBS Peringatkan Pilihan Sulit bagi Ekonomi

Selasa, 14 April 2026 - 20:16 WIB

Penjualan EV Meroket, New South Wales Tambah Stasiun Pengisian Daya

Rabu, 25 Maret 2026 - 20:12 WIB

Saham Swiss, Pilihan Investasi Menarik di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Berita Terbaru

Sinopsis Film Netflix GTA

Berita

Sinopsis Film Netflix GTA San Andreas, 5 Fakta Menarik

Senin, 4 Mei 2026 - 19:43 WIB