Polri menyatakan meningkatkan kesiapsiagaan pengamanan mudik Lebaran 2026, khususnya pada jalur penyeberangan laut yang menjadi nadi pergerakan orang dan logistik. Fokus utamanya bukan hanya mengatur antrean di pelabuhan, tetapi juga menyiapkan skenario kontinjensi jika terjadi kecelakaan di perairan.
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan bahwa unsur gabungan sudah disiagakan untuk menghadapi kondisi darurat. Pernyataan ini disampaikan saat ia meninjau pos pengamanan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, salah satu titik paling sibuk pada musim mudik.
Dalam skema kontinjensi, Polri menyiapkan armada kapal dan personel gabungan dari sejumlah unsur, termasuk TNI, Basarnas, Polair, serta stakeholder terkait. Tujuannya jelas: jika terjadi insiden di laut, respons awal bisa dilakukan cepat tanpa menunggu bantuan “datang dari jauh” yang sering terlambat ketika menit sudah terasa seperti jam.
Sebagai penguatan jalur strategis nasional, lima kapal polisi ditempatkan di titik-titik penyeberangan utama. Kapal-kapal itu disiagakan di Ketapang (Jawa Timur), Lembar (NTB), Gilimanuk (Bali), Merak (Banten), dan Bakauheni (Lampung). Penempatan ini mencerminkan pemetaan jalur padat yang biasanya mengalami lonjakan tertinggi saat mudik.
Kapabilitas kapal-kapal tersebut disebut mendukung patroli dan respons cepat, termasuk untuk pertolongan awal atau SAR tahap pertama. Kecepatan operasional dan daya jelajah menjadi faktor penting, karena dalam keadaan darurat, kemampuan bergerak cepat sering menentukan hasil—dan tidak ada yang ingin menunggu “loading” di situasi genting.
Di jalur Merak–Bakauheni, kesiapsiagaan diperkuat dengan penempatan 16 kapal gabungan dan 320 personel. Kekuatan ini ditempatkan pada titik-titik yang mudah dijangkau agar proses evakuasi, penanganan korban, dan pengamanan area bisa berjalan terkoordinasi.
Koordinasi lintas instansi juga ditekankan, termasuk dengan operator penyeberangan dan pengelola pelabuhan. Pendekatan terpadu ini penting agar prosedur keselamatan, informasi situasional, dan alur evakuasi berada pada “bahasa yang sama”, sehingga tidak terjadi tumpang tindih saat kondisi darurat.
Polri juga menyebut mitigasi dilakukan berbasis data dan pemantauan real-time. Penghitungan kebutuhan alat keselamatan seperti life jacket, kesiapan armada, serta skenario evakuasi disusun agar potensi fatalitas bisa ditekan. Di lapangan, pendekatan ini berarti bukan hanya siap “setelah kejadian”, tetapi siap sebelum kejadian.
Dari sisi prediksi, arus mudik di pelabuhan strategis diperkirakan meningkat mulai pertengahan Maret, dengan puncak pada 18–19 Maret 2026. Arus balik diprediksi terjadi dalam beberapa gelombang, termasuk 24–25 Maret dan 28–29 Maret 2026. Prediksi ini dipakai untuk mengatur penebalan personel serta kesiapan armada.
Polri juga mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan darurat 110 bila membutuhkan bantuan. Dengan kesiapsiagaan kapal dan personel, pesan yang ingin ditegaskan adalah: mudik boleh jauh, tapi respons keselamatan diharapkan tetap dekat.






