Harga emas domestik kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (2/2/2026). Penurunan yang terjadi sepanjang hari kian dalam pada sesi sore, membuat harga emas batangan terperosok ke kisaran 163–166 juta rupiah per gram. Kondisi ini memperpanjang tren koreksi terdalam yang pernah terjadi dalam sejarah perdagangan emas nasional.
Harga emas batangan produksi SJC tercatat turun sekitar 1 juta rupiah dibandingkan sesi pagi, sehingga total penurunan dalam satu hari mencapai sekitar 6 juta rupiah per gram. Tidak hanya SJC, hampir seluruh pelaku pasar utama ikut menyesuaikan harga ke level serupa. Penurunan serempak ini menandakan tekanan jual yang kuat dan menyeluruh di pasar emas fisik.
Jika dibandingkan dengan puncak historis yang tercapai pada akhir Januari lalu, yakni di atas 190 juta rupiah per gram, harga emas batangan kini telah terkoreksi lebih dari 25 juta rupiah atau setara penurunan bersih di atas 13 persen. Dengan selisih harga beli dan jual yang masih berkisar sekitar 2 juta rupiah per gram, investor yang membeli emas di puncak harga berpotensi menanggung kerugian lebih dari 27 juta rupiah per gram.
Kondisi serupa juga terjadi pada pasar emas perhiasan dan emas cincin. Harga emas cincin 99,99 persen di berbagai perusahaan besar turut melemah tajam, bahkan pada beberapa merek penurunannya mencapai 5 hingga 6 juta rupiah per gram hanya dalam satu sesi. Rentang harga emas cincin kini umumnya bergerak di kisaran 162 hingga 166 juta rupiah per gram, meski terdapat perbedaan antarperusahaan.
Menariknya, pada sebagian pedagang, harga emas cincin justru tercatat lebih tinggi dibandingkan emas batangan, mencerminkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di segmen tertentu. Hal ini menambah kompleksitas pasar di tengah volatilitas ekstrem yang sedang berlangsung.
Tekanan tidak hanya dirasakan di pasar emas, tetapi juga merambat ke logam mulia lainnya. Harga perak domestik dilaporkan turun tajam dalam satu hari perdagangan. Untuk perak batangan ukuran besar, penurunan bahkan mencapai puluhan juta rupiah per kilogram jika dibandingkan dengan rekor tertinggi yang dicapai akhir Januari lalu.
Sementara itu, di pasar global, harga emas spot juga masih berada dalam fase pelemahan tajam. Harga emas dunia tercatat turun lebih dari 150 dolar AS per ons dan bergerak di kisaran 4.700 dolar AS per ons. Jika dikonversikan ke rupiah tanpa memperhitungkan pajak dan biaya tambahan, harga emas dunia berada jauh di bawah harga emas domestik, dengan selisih sekitar 20 juta rupiah per gram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan koreksi emas masih sangat kuat, baik di dalam negeri maupun global. Pelaku pasar pun kini cenderung bersikap lebih hati-hati, menunggu kestabilan harga sebelum kembali melakukan akumulasi, di tengah volatilitas ekstrem yang belum menunjukkan tanda mereda.






