Kota Bandung bersiap memperkuat layanan kesehatan mental bagi pelajar dengan rencana menghadirkan psikolog yang terlibat langsung di lingkungan sekolah. Langkah ini didorong oleh meningkatnya temuan gangguan emosional dan perilaku pada siswa, terutama di jenjang SMP, yang dinilai sudah masuk fase “lampu kuning” dan perlu ditangani lebih serius.
Menurut Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat sekaligus dosen psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), M Ilmi Hatta, sekolah selama ini memang memiliki guru Bimbingan Konseling (BK). Namun, untuk kasus tertentu yang lebih berat, penanganan tidak cukup hanya berhenti pada layanan BK karena keterbatasan kewenangan dan ruang intervensi yang dimiliki.
Skema yang disiapkan bukan sekadar “menambah tenaga pendamping”, tetapi membangun sistem rujukan yang jelas. Guru BK akan dibekali pelatihan agar lebih peka dalam mengenali gejala awal, memahami langkah penanganan awal yang aman, serta mengetahui kapan harus merujuk siswa ke psikolog untuk intervensi lanjutan. Dengan begitu, bantuan dapat diberikan sejak dini sebelum masalah berkembang menjadi krisis yang lebih sulit dikendalikan.
Program ini juga diselaraskan dengan komitmen Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang mendorong kehadiran psikolog di sekolah. Targetnya, pelajar merasa lebih sejahtera, lebih nyaman berada di lingkungan belajar, dan memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih baik. Pendekatan ini dipandang penting karena kesehatan mental sering berdampak langsung pada disiplin, relasi sosial, serta capaian akademik.
Tidak hanya menyasar sekolah, intervensi juga diarahkan ke keluarga. Banyak persoalan mental anak berawal dari pola asuh, tekanan di rumah, atau dinamika hubungan orang tua-anak. Karena itu, kolaborasi Himpsi dengan Dinas Pendidikan untuk program sekolah akan dilengkapi sinergi kewilayahan bersama Dinas Kesehatan, termasuk psikoedukasi bagi orang tua mengenai cara mendampingi anak secara tepat.
Rencana pelaksanaan mencakup pelatihan guru BK, program training of trainers (ToT), pendampingan psikolog di sekolah, hingga psikoedukasi di tingkat wilayah. Dengan kerja sama sekolah, psikolog, pemerintah, dan orang tua, Bandung berharap angka masalah kesehatan mental pelajar dapat ditekan secara bertahap dan terukur.






