Pergerakan saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada perdagangan 10 Februari 2026 terlihat kontras dengan arus dana asing. Di saat investor asing mencatat net sell puluhan miliar rupiah, harga CDIA justru mampu bertahan di zona hijau dan ditutup menguat.
Data ringkas menunjukkan nilai foreign net sell berada di sekitar Rp37,11 miliar dari total transaksi Rp267,05 miliar. Secara proporsi, tekanan jual asing ini cukup terasa karena mendekati seperenam dari nilai transaksi harian. Namun, besar net sell ternyata belum cukup untuk membalikkan arah harga.
Sepanjang sesi, CDIA sempat bergerak dinamis. Harga pembukaan berada di area 1.140 dan sempat menyentuh puncak intraday 1.245, sebelum akhirnya berakhir menguat di 1.210. Rata-rata transaksi harian disebut berada di kisaran 1.182, dengan volume ratusan juta saham dan ribuan frekuensi transaksi.
Secara teori sederhana, jual bersih asing yang besar sering menekan harga, terutama jika permintaan tidak kuat. Akan tetapi, pada CDIA, indikasinya berbeda: ada daya serap yang cukup agresif di sisi pembeli. Inilah yang membuat harga tetap stabil bahkan bisa menanjak.
Petunjuk paling jelas biasanya terlihat dari struktur orderbook. Di satu sisi, lapisan penawaran (offer) di atas harga penutupan tampak tebal, menandakan suplai menunggu. Namun di sisi lain, antrean permintaan (bid) juga terlihat besar, bahkan secara total lot disebut lebih tebal dibanding sisi offer. Ketimpangan inilah yang sering dibaca sebagai sinyal: ada pihak yang bersedia menahan tekanan jual.
Jika dibedah lewat ringkasan broker, muncul gambaran siapa yang aktif menyerap. Di sisi pembeli, beberapa sekuritas domestik tercatat melakukan pembelian dengan rata-rata harga di bawah harga penutupan. Pola ini sering diinterpretasikan sebagai akumulasi, karena pembeli mendapatkan posisi dengan “buffer” ketika harga bertahan atau naik.
Sementara itu, di sisi penjual ada sekuritas yang mencatat pelepasan dalam jumlah tertentu dengan rata-rata harga yang juga berada di bawah harga penutupan. Ketika kondisi seperti ini terjadi bersamaan, pasar kerap membaca adanya tarik-menarik: distribusi oleh satu kelompok pelaku, dilawan penyerapan oleh kelompok lain.
Faktor psikologis juga ikut bermain. Saat harga tetap menguat meski ada tekanan jual asing, sebagian pelaku pasar melihatnya sebagai “sinyal kekuatan”. Alhasil, permintaan tambahan dapat muncul dari investor yang mengejar momentum, mempertebal bid dan membantu harga bertahan.
Namun, penting untuk membedakan antara kekuatan bid jangka pendek dan tren yang benar-benar berkelanjutan. Jika suplai di level atas tetap menumpuk dan permintaan melemah, harga bisa tersendat. Sebaliknya, jika bid terus dominan dan penyerapan berlanjut, saham memiliki ruang untuk mempertahankan penguatan meski arus keluar asing masih terjadi.
Intinya, kasus CDIA pada sesi ini menggambarkan situasi yang sering terjadi di pasar: arus asing bukan satu-satunya penentu. Ketika likuiditas dan daya serap domestik cukup kuat, harga masih bisa naik walau foreign net sell besar. Kuncinya ada pada keseimbangan orderbook, ritme akumulasi, dan apakah permintaan mampu menjaga dominasi terhadap suplai di level-level kunci.






