Pemerintah Kota Bandung mulai memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih membayangi wilayah Bandung Raya pada awal April 2026. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai angin kencang terjadi dalam waktu singkat dan berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi yang serius.
Farhan meminta warga lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar ruangan. Salah satu imbauan utamanya adalah menghindari melintas atau memarkir kendaraan di bawah pohon besar dan papan reklame, karena dua objek ini dinilai sangat rawan roboh saat angin kencang datang. Imbauan tersebut lahir bukan dari kekhawatiran kosong, tetapi dari rangkaian kejadian nyata yang sudah menimbulkan korban dan kerusakan di beberapa titik kota.
Selain memberi peringatan kepada masyarakat, Pemkot Bandung juga memastikan skenario mitigasi telah disiapkan. Farhan menegaskan bahwa koordinasi lintas dinas akan dilakukan dalam waktu cepat untuk menyusun langkah pencegahan yang lebih konkret. Ia menyebut dinas-dinas teknis seperti permukiman, damkar, perhubungan, bina marga, hingga pertanian akan dilibatkan agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Salah satu fokus utama mitigasi adalah pemangkasan pohon-pohon yang dinilai berpotensi tumbang. Pemerintah mulai mengidentifikasi pohon dengan ciri akar dangkal atau rusak, batang retak atau berlubang, cabang rapuh, hingga posisi pohon yang sudah miring secara signifikan. Ini penting karena Bandung selama ini sangat lekat dengan identitas kota rindang, tetapi saat cuaca menjadi ekstrem, pohon yang biasanya memberi teduh juga bisa berubah jadi ancaman mendadak.
Penegasan ini disampaikan Farhan setelah meninjau sejumlah lokasi terdampak bencana hidrometeorologi pada Sabtu, 4 April 2026. Dalam peninjauan itu, ia didampingi berbagai perangkat daerah, termasuk Diskominfo, DPKP, Disdik, Disdamkarmat, BPBD, dan unsur kewilayahan. Beberapa titik yang disambangi antara lain Microlibrary Bima di Jalan Bima, Jalan Citepus 3 RW 10 Kelurahan Pajajaran Kecamatan Cicendo, Jalan Cihapit, serta SDN 023 Pajagalan.
Menurut Farhan, jumlah pohon tumbang yang terjadi akibat cuaca ekstrem belakangan ini cukup luar biasa dan menjadi perhatian serius. Hal ini terasa ironis karena pohon-pohon besar tersebut selama ini justru menjadi salah satu ciri khas Kota Bandung. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus berada di posisi yang tidak mudah: menjaga identitas kota tetap hijau, tapi juga memastikan keselamatan warga tidak dikorbankan. Singkatnya, rindang itu indah, tapi kalau roboh mendadak, suasananya langsung berubah jadi darurat.
Farhan juga memastikan bahwa seluruh satuan kerja perangkat daerah telah bergerak cepat menangani dampak bencana yang muncul dalam beberapa hari terakhir. Penanganan dilakukan secara langsung di lapangan, menunjukkan bahwa kesiapsiagaan pemerintah kota tidak berhenti di rapat koordinasi atau pernyataan resmi saja. Respons cepat ini menjadi penting untuk menekan potensi kerusakan lanjutan sekaligus mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Dengan cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi, langkah Pemkot Bandung sekarang bukan hanya soal merespons kejadian, tetapi juga mencegah bencana susulan agar tidak menelan dampak yang lebih besar. Bagi warga, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Sementara bagi pemerintah, ujian utamanya adalah menjaga agar koordinasi lintas dinas benar-benar bekerja secepat janji yang sudah disampaikan. Kalau dua hal itu bisa berjalan beriringan, risiko dari cuaca ekstrem setidaknya bisa ditekan sebelum berubah menjadi tragedi yang lebih luas.






