Harga emas dunia kembali bergerak turun setelah sempat menguat tajam di tengah gejolak geopolitik. Penurunan terbaru terjadi usai pasar merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap infrastruktur Iran. Alih-alih terus melesat sebagai aset aman, emas justru terkena tekanan jual besar-besaran.
Pada penutupan perdagangan 23 Maret waktu Amerika Serikat, harga emas spot turun sekitar 84,2 dolar AS menjadi 4.406,1 dolar AS per ounce. Kontrak emas berjangka pengiriman Juni di AS juga merosot 3,7 persen ke level 4.407,3 dolar AS per ounce. Dalam sesi perdagangan lanjutan, harganya bahkan sempat bergerak mendekati area 4.325 dolar AS per ounce.
Padahal sebelumnya, logam mulia ini sempat bangkit hampir 400 dolar AS dari zona sekitar 4.100 dolar AS menuju mendekati 4.500 dolar AS per ounce. Kenaikan itu didorong kekhawatiran terhadap eskalasi konflik Timur Tengah dan potensi serangan baru terhadap infrastruktur Iran. Namun euforia itu tidak bertahan lama karena pasar segera berbalik arah.
Salah satu pemicunya adalah munculnya sinyal penundaan aksi militer dari Washington. Walau pernyataan tersebut kemudian dibantah pihak Iran, pasar lebih dulu menangkapnya sebagai peluang meredanya risiko jangka pendek. Saat sentimen panik menurun, investor mulai merealisasikan keuntungan dari posisi beli emas yang sebelumnya sudah menumpuk cukup besar.
Pelaku pasar juga menyoroti kaitan antara konflik Timur Tengah dan pergerakan harga energi. Kenaikan harga minyak akibat perang dengan Iran memunculkan ekspektasi bahwa suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama. Di sinilah emas menghadapi paradoks. Ia memang dikenal sebagai aset aman dan lindung nilai inflasi, tetapi ketika suku bunga tinggi bertahan, daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas ikut tertekan.
David Meger dari High Ridge Futures menilai aksi jual kali ini merupakan kelanjutan dari penutupan posisi beli jangka panjang. Setelah Trump mengunggah pernyataan di Truth Social, pasar langsung memicu pembalikan besar pada berbagai kelas aset, dari logam, energi, hingga saham. Jadi, emas tidak jatuh sendirian; ia ikut terseret arus perubahan sentimen global yang mendadak berbalik.
Secara historis, emas memang kerap mendapat dorongan ketika dunia terlihat kacau. Namun pergerakannya tidak selalu lurus ke atas. Jika investor melihat peluang deeskalasi, atau jika pasar lebih takut pada bunga tinggi dibanding risiko perang, harga emas bisa turun meski ketegangan geopolitik belum benar-benar selesai. Kadang pasar memang punya kebiasaan menyebalkan: panik cepat, tenang cepat, lalu bikin bingung semua orang.
Di pasar logam lain, pergerakannya cenderung beragam. Perak spot justru naik 2,5 persen menjadi 69,47 dolar AS per ounce, sementara platinum turun 2,7 persen ke 1.868,95 dolar AS per ounce. Paladium naik 1,7 persen menjadi 1.467,77 dolar AS per ounce. Ini menunjukkan bahwa reaksi pasar logam tidak sepenuhnya seragam, tergantung sentimen dan fungsi masing-masing komoditas.
Ke depan, harga emas dunia kemungkinan masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Selama konflik Iran belum benar-benar reda dan ekspektasi suku bunga masih berubah-ubah, volatilitas emas hampir pasti tetap tinggi. Bagi investor, situasinya jelas: emas masih relevan sebagai aset aman, tetapi jalurnya sekarang lebih mirip roller coaster daripada tangga lurus ke atas.






