Jurnalis senior Karni Ilyas kembali membuka catatan panjang pengalamannya berinteraksi dengan tujuh presiden Indonesia, dari era Soeharto hingga Prabowo Subianto. Dalam perbincangan bersama Akbar Faizal, ia tidak hanya membahas karakter para kepala negara yang pernah ia liput, tetapi juga menyentil perubahan besar dunia pers dari masa represif hingga zaman media sosial seperti sekarang.
Bagi Karni, setiap presiden meninggalkan jejak yang berbeda. Namun ketika ditanya siapa yang paling memahami media, ia tanpa ragu menyebut BJ Habibie. Menurutnya, Habibie bukan hanya membuka ruang kebebasan pers setelah tekanan panjang pada masa Orde Baru, tetapi juga menunjukkan sikap yang lapang terhadap kritik dan pemberitaan yang tidak selalu menyenangkan bagi penguasa.
Karni mengingat satu pengalaman saat majalah yang dipimpinnya memuat foto Habibie dengan angle yang dinilai kurang bagus. Ia sempat cemas karena membayangkan reaksi presiden bisa saja negatif. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Habibie, menurut cerita Karni, merespons santai dan malah memuji kemampuan fotografer yang bisa menangkap gambar tersebut. Dari pengalaman itu, Karni melihat Habibie sebagai simbol keterbukaan Indonesia.
Pengalaman itu sangat kontras dengan masa Soeharto. Karni menggambarkan era Orde Baru sebagai periode paling represif bagi kebebasan pers. Redaksi media, kata dia, setiap hari menerima daftar larangan pemberitaan dari berbagai institusi negara. Bahkan berita kecelakaan pun bisa dicegah tayang jika dinilai bersinggungan dengan nama tertentu di lingkaran kekuasaan.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah peristiwa meninggalnya sejumlah mahasiswa ITB dalam kecelakaan arung jeram. Menurut Karni, tragedi tersebut tak boleh diberitakan karena berkaitan dengan kegiatan yang membawa nama tokoh penting. Tidak ada media yang berani melawan. Cerita ini memperlihatkan betapa kerasnya tekanan terhadap pers pada masa itu, ketika ruang redaksi bukan tempat bebas berpikir, melainkan seperti lorong penuh rambu larangan.
Karni juga membandingkan watak para presiden pascareformasi. Gus Dur ia nilai baik dalam pergaulan dan dekat dengan media, tetapi bisa sangat keras ketika posisi kepresidenannya terdesak. Megawati Soekarnoputri disebut punya hubungan baik dengannya, walau sempat terganggu gara-gara momen di televisi saat Sukmawati Soekarnoputri dipotong ketika berbicara dalam program diskusi. SBY, menurut Karni, termasuk sosok yang sangat baik dan punya kedekatan dengannya sejak awal kemunculan di panggung politik nasional.
Tentang Joko Widodo, Karni mengaku tidak terlalu dekat sejak awal. Ia merasa ada jarak karena tidak ingin ikut arus pemberitaan yang terlalu memuji penguasa. Ia mengisyaratkan bahwa sikap kritis medianya membuat hubungan dengan Jokowi tidak selalu hangat. Sementara terhadap Prabowo Subianto, Karni menyebut dirinya sudah lama mengenal sosok tersebut dari lingkungan diskusi dan lembaga studi, bahkan sempat berharap mendapat wawancara khusus setelah Prabowo menjadi presiden, meski hingga kini belum terwujud.
Namun bagian paling tajam dari perbincangan itu justru muncul saat Karni menyoroti kondisi jurnalisme sekarang. Menurut dia, masalah terbesar media saat ini bukan hanya perubahan platform atau serbuan teknologi digital, melainkan merosotnya integritas wartawan dan institusi pers. Ia menilai banyak produk jurnalistik telah tercampur kepentingan bisnis dan politik sehingga fungsi utamanya melayani publik menjadi kabur.
Karni menegaskan bahwa runtuhnya integritas akan menghancurkan kepercayaan publik. Jika masyarakat sudah tidak lagi percaya pada media, maka kematian media tinggal menunggu waktu. Ia juga menyinggung perubahan lanskap informasi, termasuk meredupnya televisi sebagai medium dominan. Program besar seperti Indonesia Lawyers Club, yang dulu bisa menghasilkan pendapatan iklan miliaran rupiah dalam satu kali tayang, kini harus menghadapi perhatian publik yang terpecah ke gawai, platform streaming, dan media sosial.
Meski demikian, Karni tidak memandang perubahan zaman sebagai alasan untuk menyerah. Di usia lebih dari tujuh dekade, ia mengaku tidak lagi mengejar jabatan, bahkan pernah menolak tawaran posisi penting seperti Jaksa Agung pada era Megawati karena merasa dunia jurnalistik tetap menjadi panggilan hidupnya. Bagi Karni, martabat wartawan sangat tinggi karena pers yang jujur bukan cuma merekam sejarah, tetapi ikut menentukan arah bangsa. Pesannya sederhana, tetapi keras: media hanya bisa bertahan jika tetap setia pada kejujuran.






