Harga emas dunia kembali melemah pada pekan kedua berturut-turut. Penurunan ini terjadi ketika logam mulia berada di bawah tekanan penguatan dolar Amerika Serikat serta kekhawatiran inflasi yang berkaitan dengan konflik Iran dan ketegangan geopolitik yang lebih luas.
Pada penutupan sesi perdagangan 13 Maret waktu AS, harga emas spot turun sekitar 60,4 dolar menjadi 5.017,7 dolar per ounce. Bahkan, dalam pergerakan intraday, harga sempat merosot mendekati level psikologis 5.000 dolar per ounce. Dengan hasil itu, emas tercatat turun lebih dari 2 persen dalam sepekan terakhir.
Kontrak emas berjangka pengiriman April di Amerika Serikat juga ikut terkoreksi. Harganya turun 1,3 persen ke level 5.061,7 dolar per ounce. Padahal di awal pekan, harga emas sempat bergerak positif di atas 5.170 dolar per ounce dan pada pertengahan minggu sempat menembus 5.200 dolar sebelum akhirnya berbalik arah tajam akibat aksi ambil untung.
Tai Wong, pedagang logam independen, menilai pasar sejauh ini masih optimistis terhadap prospek jangka panjang emas sebagai aset lindung nilai. Namun dalam jangka pendek, logam mulia itu justru bergerak menuju level terendah sejak konflik dengan Iran mulai memanas, terutama karena dolar AS sedang menguat.
Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Selain faktor nilai tukar, laporan Commerzbank menyebut tekanan tambahan datang dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Ketika suku bunga tinggi bertahan, daya tarik emas cenderung menurun karena biaya peluang memegang aset non-bunga seperti emas ikut meningkat.
Tekanan juga diperbesar oleh data ekonomi AS yang menunjukkan pengeluaran konsumen atau PCE pada Januari naik sedikit dan lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve mungkin tidak akan segera melanjutkan penurunan suku bunga, apalagi inflasi inti masih dinilai cukup kuat di tengah ketegangan geopolitik.
Di ranah politik, Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan menyerang Iran “sangat kuat” pada pekan berikutnya. Pernyataan tersebut datang tak lama setelah pemerintah AS mengeluarkan pengecualian parsial 30 hari untuk pembelian minyak Rusia yang sedang dikenai sanksi. Harga minyak memang turun pada hari itu, tetapi secara mingguan masih mengarah naik karena kekhawatiran gangguan di wilayah Teluk belum reda. Jadi, pasar sekarang seperti orang minum kopi tiga gelas: jantungnya deg-degan, pikirannya lari ke mana-mana.
Selain emas, logam mulia lain juga kompak melemah. Harga perak spot turun 3,3 persen ke 81 dolar per ounce, platinum turun 4 persen ke 2.047,2 dolar per ounce, dan paladium kehilangan 2,5 persen menjadi 1.599 dolar per ounce. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap logam mulia sedang diliputi tekanan luas, bukan hanya terhadap emas semata.






