Harga emas global diproyeksikan masih memiliki ruang kenaikan signifikan sepanjang 2026. Sejumlah analis memperkirakan logam mulia ini berpotensi menguji kisaran USD 5.500 hingga USD 6.200 per ons, meskipun diwarnai fluktuasi tajam dalam jangka pendek.
Menurut pengamat pasar, koreksi yang terjadi pada awal 2026 tidak mengubah tren besar emas yang masih ditopang oleh berbagai faktor fundamental. Dao Le Trang Anh, dosen senior bidang keuangan di RMIT University Vietnam, menilai pergerakan emas saat ini jauh lebih terstruktur dibandingkan siklus ekstrem pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga emas pada era 1979–1980 didorong oleh kepanikan pasar akibat inflasi dua digit, krisis minyak, serta runtuhnya kepercayaan terhadap sistem moneter global setelah Amerika Serikat meninggalkan standar emas. Kondisi tersebut memicu spekulasi besar-besaran, sebelum akhirnya harga emas anjlok tajam ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif.
Sebaliknya, tren kenaikan emas dalam beberapa tahun terakhir dinilai memiliki fondasi yang lebih luas dan bersifat institusional. Pandemi Covid-19, kebijakan moneter longgar, inflasi global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik telah membentuk fase kenaikan baru yang tidak bergantung pada satu kejutan tunggal.
Periode 2024–2026 bahkan disebut sebagai salah satu fase terkuat dalam sejarah emas modern. Sepanjang 2025, harga emas tercatat melonjak lebih dari 60 persen dan menembus level USD 4.200 per ons. Tren tersebut berlanjut pada awal 2026, ketika harga sempat melampaui USD 5.600 per ons.
Menurut Trang Anh, perbedaan utama siklus saat ini terletak pada sumber dorongannya. Permintaan emas kini banyak datang dari bank sentral yang aktif mendiversifikasi cadangan devisa, aliran dana besar melalui ETF, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral utama. Faktor geopolitik dan meningkatnya risiko utang publik global juga memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.
Ia menilai peran emas saat ini tidak lagi sekadar safe haven pasif, melainkan instrumen “asuransi” yang secara aktif melindungi portofolio dari ketidakpastian sistemik. Kondisi inilah yang membuat skenario koreksi dalam dan fase stagnan berkepanjangan menjadi relatif sulit terulang.
Dalam jangka pendek, koreksi tajam tetap dianggap wajar setelah lonjakan harga yang cepat. Tekanan jual belakangan ini dinilai lebih banyak dipicu oleh aksi ambil untung, terutama dari posisi leverage tinggi, serta penguatan dolar sementara. Namun, tekanan tersebut dipandang sebagai reaksi pasar jangka pendek, bukan perubahan arah tren.
Untuk jangka menengah, harga emas diperkirakan bergerak fluktuatif dalam rentang yang lebar. Sementara dalam jangka panjang, faktor pendukung seperti ketidakpastian geopolitik, kebutuhan diversifikasi cadangan bank sentral, serta risiko sistem keuangan global dinilai masih sangat relevan.
Trang Anh menegaskan bahwa pembalikan tren emas secara nyata baru akan terjadi jika inflasi global benar-benar terkendali dalam waktu lama, suku bunga riil bertahan tinggi, ketegangan geopolitik mereda signifikan, dan permintaan emas dari bank sentral melemah secara konsisten.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, analis memproyeksikan beberapa skenario harga emas pada 2026. Dalam skenario konservatif, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran USD 4.600–5.000 per ons. Namun, jika risiko makroekonomi dan geopolitik terus berlanjut, harga emas dinilai berpeluang menguji level USD 5.500 hingga USD 6.200 per ons, meski dengan volatilitas yang sangat tinggi.
Apabila harga emas global mencapai USD 6.200 per ons dan nilai tukar berada di sekitar 26.100 VND per dolar AS, maka harga emas dunia yang dikonversi ke pasar Vietnam berpotensi mendekati 195 juta VND per tael, belum termasuk pajak dan biaya. Dengan mempertimbangkan disparitas harga domestik, sejumlah analis bahkan menilai harga emas di Vietnam berpeluang menembus 210 juta VND per tael pada 2026.






