Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan sudah saatnya dunia sepak bola meninjau kembali larangan terhadap Rusia yang diberlakukan sejak 2022. Menurutnya, sanksi olahraga yang berlangsung hampir empat tahun tersebut tidak memberikan dampak nyata dalam meredakan konflik, justru berpotensi menambah kebencian dan frustrasi.
Dalam wawancara dengan Sky News di sela acara sepak bola di London pada 2 Februari, Infantino menilai bahwa melarang atlet—terutama anak-anak dan remaja—untuk bermain di panggung internasional bukanlah solusi. Ia menekankan bahwa membuka kembali ruang partisipasi, setidaknya di level usia muda, dapat menjadi sinyal positif bagi dialog dan rekonsiliasi.
Rusia saat ini masih diskors dari seluruh kompetisi yang berada di bawah naungan FIFA dan UEFA, termasuk kualifikasi Piala Dunia serta turnamen klub dan tim nasional. Pada 2023, UEFA sempat memberi izin terbatas bagi tim muda Rusia untuk kembali berlaga, namun keputusan tersebut ditarik setelah mendapat penolakan keras dari sejumlah federasi anggota.
Infantino menyebut bahwa larangan berkepanjangan tidak menghasilkan perubahan konkret. Karena itu, ia mengusulkan pendekatan bertahap, dimulai dari kompetisi usia muda, untuk melihat dampak nyata di lapangan. Dewan FIFA sendiri telah merencanakan penyelenggaraan festival sepak bola U-15 di masa mendatang dengan prinsip keterbukaan bagi seluruh 211 asosiasi anggota, sebuah langkah yang secara tidak langsung membuka peluang kembalinya Rusia ke ajang internasional.
Pernyataan ini langsung menuai reaksi keras dari Ukraina. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai sikap Infantino sebagai bentuk kelalaian moral, mengingat ratusan anak-anak Ukraina tewas akibat konflik dan tidak pernah mendapat kesempatan merasakan sepak bola. Menteri Olahraga Ukraina, Matvi Bidnyi, bahkan menyebut gagasan memisahkan olahraga dari realitas perang sebagai pandangan yang tidak bertanggung jawab, mengingat ratusan atlet dan pelatih Ukraina telah menjadi korban sejak perang pecah.
Pihak Ukraina khawatir kembalinya Rusia ke kompetisi internasional akan dimanfaatkan sebagai alat propaganda politik, seolah-olah situasi telah kembali normal. Federasi Sepak Bola Ukraina pun menegaskan tetap menolak segala bentuk reintegrasi Rusia selama konflik bersenjata masih berlangsung.
Di Eropa, wacana ini juga memicu perdebatan internal. Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, sebelumnya menyatakan bahwa Rusia hanya dapat kembali berkompetisi setelah perang benar-benar berakhir. Komite Eksekutif UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan bulan ini untuk membahas berbagai isu, termasuk status Rusia dalam sepak bola internasional.
Isu ini semakin sensitif karena dinamika politik global. Infantino diketahui memiliki hubungan dekat dengan Donald Trump, sementara FIFA juga memperluas kehadirannya di Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026. Situasi tersebut membuat setiap pernyataan terkait Rusia tak hanya dipandang sebagai isu olahraga, tetapi juga sarat muatan geopolitik.






