Museum Bahari Jakarta kini memiliki sudut edukasi baru yang mengangkat isu pembangunan berkelanjutan. Fasilitas tersebut diberi nama SDGs Corner, sebuah ruang belajar yang dirancang agar pengunjung bisa memahami tujuan pembangunan berkelanjutan melalui kacamata maritim dan kehidupan pesisir.
Peresmian SDGs Corner dilakukan di kawasan Museum Bahari, Penjaringan, Jakarta Utara. Sejumlah pejabat hadir dalam peluncuran ini, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang menekankan bahwa museum dapat menjadi jembatan antara sejarah maritim dan tantangan masa depan.
Menurut Rano, SDGs Corner dirancang sebagai ruang edukasi inklusif. Di dalamnya, isu-isu SDGs dihadirkan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai bagian dari keseharian masyarakat yang hidup dan bekerja di wilayah pesisir. Pendekatan ini membuat topik pembangunan lebih dekat, lebih mudah dibayangkan, dan lebih relevan bagi pengunjung.
Ruang ini disebut terwujud lewat sinergi Museum Bahari Jakarta dengan United Nations. Kolaborasi ini diharapkan bisa memantik percakapan baru tentang masa depan Indonesia sebagai negara maritim, termasuk bagaimana kebijakan pembangunan bisa selaras dengan kondisi laut, pelabuhan, serta komunitas nelayan.
Rano juga menyoroti bahwa SDGs Corner bukan hanya tempat membaca informasi, tetapi ruang diskusi yang mendorong gagasan dari akar rumput. Ia memberi contoh target ruang terbuka hijau 30 persen untuk menciptakan Jakarta yang lebih nyaman. Saat ini, capaian kota masih sekitar 5 persen, sehingga diperlukan kerja panjang dan pembenahan yang konsisten.
Melalui sudut edukasi ini, pengunjung diajak melihat keterkaitan berbagai isu: kehidupan nelayan, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga dampak perubahan iklim. Dengan cara itu, SDGs tidak dipahami sebagai daftar target global semata, melainkan rangkaian persoalan yang saling terhubung.
Pihak museum menekankan aspek inklusivitas. Museum Bahari berupaya menyediakan ruang partisipasi setara bagi penyandang disabilitas, sehingga proses belajar dapat diakses oleh lebih banyak kelompok masyarakat. Prinsip ini sejalan dengan semangat SDGs yang menekankan “tidak meninggalkan siapa pun.”
Rano mengingatkan, sebagai kota pesisir dan salah satu kota tertua di Indonesia, Jakarta memiliki ikatan kuat dengan laut. Namun ikatan itu juga membawa tantangan nyata: kenaikan permukaan air laut, banjir rob, perubahan iklim, hingga ketahanan sosial masyarakat pesisir.
Karena itulah, konsep pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan menjadi penting. SDGs Corner diharapkan bisa membantu publik memahami risiko-risiko tersebut sekaligus menguatkan literasi solusi—dari perubahan perilaku, dukungan kebijakan, hingga inovasi yang bisa diterapkan dalam skala komunitas.
Direktur Musee ID, Nova Farida Lestari, menyebut SDGs Corner di Museum Bahari sebagai yang pertama di Indonesia. Ia menilai langkah ini menegaskan peran museum sebagai ruang dialog, edukasi, dan perubahan sosial—bukan sekadar tempat menyimpan warisan masa lalu.






