Perum Jasa Tirta II menegaskan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlanjut hingga Maret 2026. Fokus utamanya adalah menjaga fungsi pengendalian banjir tetap optimal, sekaligus melindungi keselamatan masyarakat di daerah layanan.
Mitigasi dilakukan lewat pendekatan berlapis. Di tingkat hulu, operasi waduk dan bendung dioptimalkan agar debit air bisa dikendalikan lebih terukur ketika hujan berintensitas tinggi terjadi dalam waktu panjang.
Di saat yang sama, pemantauan hidrologi diperketat. Pengukuran curah hujan, ketinggian muka air, dan kondisi aliran dipakai sebagai dasar keputusan operasi, sehingga respons bisa lebih cepat sebelum banjir, genangan, atau longsor meluas.
PJT II juga rutin menginspeksi infrastruktur sumber daya air, termasuk saluran dan tanggul. Langkah ini penting karena cuaca ekstrem sering memicu kerusakan mendadak yang mengganggu fungsi irigasi maupun pengendalian banjir.
Contoh penanganan terjadi di Subang, Jawa Barat, ketika longsoran menutup saluran sekunder di Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak, pada akhir Januari 2026. Penanganan dilakukan secara manual bersama perangkat desa, aparat setempat, dan warga agar aliran kembali normal.
Di wilayah Bekasi, perbaikan darurat juga dilakukan pada tanggul Saluran Sekunder Kedunggede di Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur. Jebolnya tanggul sekitar delapan meter ditangani dengan ekskavator dan penguatan menggunakan karung tanah, cerucuk bambu, bronjong, serta terpal agar saluran tetap berfungsi melayani lahan lebih dari delapan hektar.
Selain pekerjaan fisik, koordinasi lintas lembaga diperkuat. PJT II rutin menggelar rapat Tim Koordinasi Pengoperasian Bendungan Kaskade Citarum yang melibatkan BMKG, BBWS Citarum, pengelola waduk, PLN UIP2B, balai hidrologi, hingga dinas SDA.
Secara internal, rapat pemantauan operasi juga dilakukan berkala untuk mengevaluasi kondisi penyaluran air, prasarana, serta kejadian bencana yang berkembang di lapangan. Pola ini membantu memastikan personel siaga dan keputusan tidak terlambat.
Pada akhirnya, strategi kendali banjir PJT II mengandalkan kombinasi data, kesiapsiagaan, dan kerja sama. Ketika cuaca ekstrem makin sulit diprediksi, respons yang terpadu menjadi penentu agar dampak banjir dan longsor dapat ditekan sejak dini.






