Memasuki awal Ramadhan, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) melakukan pemantauan harga bahan pokok di delapan pasar tradisional. Monitoring ini dilakukan per 19 Februari 2026 untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan tetap aman saat aktivitas belanja warga meningkat.
Informasi hasil pemantauan disampaikan melalui kanal Instagram @bdg.perdaganganindustri pada Sabtu, 21 Februari 2026. Data yang dirilis merupakan harga rata-rata yang dihimpun dari delapan pasar, sehingga dapat memberi gambaran umum kondisi harga di lapangan.
Pasar yang dipantau meliputi Pasar Astanaanyar, Sederhana, Kosambi, Palasari, Kiaracondong, Pasar Baru, Cihaurgeulis, dan Ujung Berung. Delapan titik ini dipilih karena menjadi pusat transaksi harian masyarakat dari berbagai wilayah Bandung.
Dari sisi komoditas beras, mayoritas harga masih terpantau stabil. Beras medium tercatat sekitar Rp13.500 per kilogram, sementara beras premium berada di kisaran Rp14.900 per kilogram. Tepung terigu juga terpantau relatif tenang di angka Rp9.750 per kilogram.
Kebutuhan protein yang banyak diburu saat Ramadhan pun belum menunjukkan gejolak besar. Harga daging ayam rata-rata sekitar Rp41.300 per kilogram, sedangkan telur ayam berada di kisaran Rp31.000 per kilogram.
Sejumlah bumbu dan kebutuhan dapur lainnya juga masih dalam rentang terkendali. Bawang putih tercatat Rp38.000 per kilogram, bawang merah Rp45.000 per kilogram, gula putih sekitar Rp17.500 per kilogram, dan minyak goreng premium berada di angka Rp20.300 per liter.
Namun, Disdagin mencatat ada komoditas yang mulai merangkak naik. Daging sapi paha belakang tercatat sekitar Rp145.700 per kilogram, menjadi salah satu titik perhatian karena biasanya permintaan meningkat menjelang dan saat Ramadhan.
Kenaikan paling menonjol terjadi pada komoditas cabai. Cabai merah terpantau sekitar Rp54.800 per kilogram, sementara cabai rawit merah menembus Rp99.300 per kilogram, angka yang lazim memicu efek psikologis di pasar karena cabai termasuk bahan harian di banyak dapur.
Disdagin menekankan bahwa pemantauan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian agar fluktuasi tidak melewati batas wajar. Monitoring juga dipakai untuk membaca kelancaran distribusi dan ketersediaan stok di pasar tradisional, sehingga potensi lonjakan bisa diantisipasi lebih cepat.
Selain mencatat harga, pemantauan rutin juga membantu pemerintah menilai apakah ada hambatan pasokan dari hulu, misalnya masalah distribusi atau keterlambatan suplai. Dengan peta harga yang lebih rapi, langkah intervensi seperti koordinasi distributor atau operasi pasar dapat disiapkan bila diperlukan.
Disdagin memastikan kegiatan monitoring akan dilakukan secara berkala selama periode Ramadhan. Harapannya, warga dapat berbelanja dengan lebih tenang karena informasi harga lebih jelas, sementara stabilitas perdagangan di Bandung tetap terjaga meski permintaan cenderung naik.






