Pemerintah Kota Bandung kembali menegaskan komitmen mencari solusi nyata untuk kemacetan yang selama ini menjadi keluhan warga. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut persoalan lalu lintas bukan hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga menekan sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Farhan, salah satu langkah yang dinilai paling efektif adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pemecah bottleneck, terutama di titik-titik yang sering macet karena perlintasan sebidang rel kereta api. Ia mendorong optimalisasi pembangunan flyover dan jembatan baru sesuai target kebutuhan kota.
Farhan menyampaikan bahwa Bandung masih memerlukan setidaknya enam jalan layang tambahan untuk mengurangi antrean panjang di perlintasan KA. Selain itu, dibutuhkan tiga jembatan konektivitas baru yang dibangun di sekitar kawasan Stasiun Kereta Cepat Whoosh, terutama area KCIC Tegalluar dan wilayah Gedebage.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat sebelumnya sudah menuntaskan dua flyover utama yang kini sudah beroperasi, yakni Flyover Ciroyom dan Flyover Nurtanio. Dua proyek tersebut dibangun untuk mengurai kemacetan di perlintasan KA, dan menjadi contoh bahwa intervensi struktur jalan bisa langsung berdampak pada kelancaran arus kendaraan.
Namun, Farhan menilai pekerjaan rumah Bandung belum selesai. Karena pola kemacetan di Bandung menyebar di beberapa koridor strategis, maka menambah jumlah flyover dan jembatan dipandang sebagai paket solusi untuk menutup titik konflik lalu lintas yang selama ini memakan waktu dan energi warga.
Gambaran tingkat kemacetan Bandung juga ditopang oleh data global. Berdasarkan TomTom Traffic Index yang dirilis pada Rabu, 21 Januari 2026, Bandung tercatat sebagai kota termacet ke-16 di dunia dan menempati peringkat nomor 1 di Indonesia untuk tahun 2025.
TomTom Traffic Index 2025 disusun dari survei platform analisis kemacetan yang memakai data waktu tempuh dan lokasi kendaraan secara real time (floating car data/FCD) melalui sistem navigasi GPS. Metode ini membuat gambaran kemacetan tidak hanya berbasis opini, melainkan berbasis pergerakan kendaraan di lapangan.
Dalam laporan tersebut, kepadatan lalu lintas Bandung disebut lebih parah dibanding kota besar lain di Indonesia yang juga masuk 100 besar global, seperti Jakarta, Medan, dan Palembang. Angka kemacetan Bandung mencapai 64,1%—naik 0,9% dibanding 2024.
Dampaknya terasa pada kecepatan rata-rata. Pada 2025, jarak tempuh rata-rata dalam 15 menit di Bandung hanya sekitar 4,6 kilometer. Untuk menempuh 10 kilometer, pengendara membutuhkan rata-rata 32 menit 26 detik.
Di jam sibuk, situasinya lebih menantang karena kecepatan kendaraan bisa turun hingga sekitar 16,3 km per jam. Kondisi seperti ini membuat efektivitas mobilitas kota menurun, baik untuk warga yang bekerja maupun untuk distribusi barang dan layanan.
Karena itulah, Farhan mengarahkan fokus pada pembangunan flyover di atas jalur KA serta jembatan baru dekat akses Stasiun Whoosh sebagai paket solusi. Targetnya bukan sekadar membangun, tetapi mengurangi titik konflik, memotong waktu tempuh, dan menciptakan konektivitas yang lebih rapi untuk kawasan Bandung Timur dan pusat kota.






